D.N. Aidit

Posted by sukacita 0 comments


Aidit, Lukman, dan Njoto bahu-membahu membesarkan partai. Karena perempuan, Njoto tersisih.

Madiun, 19 September 1948…


Revolusi memakan anak sendiri. Sebelas pemimpin teras PKI tewas. Muso, Amir
Sjarifuddin, dan Maruto Darusman ditembak mati di Desa Ngalihan, Solo.
Partai limbung, tercerai-berai. Tiba-tiba muncul tiga anak muda, Aidit, Njoto, dan
Lukman, bagaikan The Three Musketeers. Mereka muncul menjadi tulang punggung
partai. Ketiganya menghidupkan partai—dan bisa membuat lebih besar. Mereka kemudian
dikenal sebagai trisula PKI: Sekretaris Jenderal, Wakil Sekjen I, dan Wakil Sekjen II.
Kisah persahabatan—dan konflik—tiga sahabat itu menarik dikenang.

Dipa Nusantara Aidit pertama kali bertemu dengan Mohamad Hakim Lukman pada 1943
di Menteng 31, Jakarta. Bekas Hotel Schomper itu terkenal sebagai sarang para pemuda
aktivis kemerdekaan. Mereka bergabung dengan Gerakan Indonesia Merdeka. Aidit tiga
tahun lebih muda daripada Lukman, yang ketika itu baru 23 tahun. Aidit kemudian
menjadi Ketua Dewan Politik Gerakan Indonesia Merdeka, dan Lukman anggota.
Sejak itu, Aidit dan Lukman menjadi akrab dan seolah ditakdirkan melakoni sejarah hidup
yang sama. Keduanya pada 1944 terpilih masuk Barisan Pelopor Indonesia—kumpulan
100 pejuang paling setia kepada Bung Karno. Keduanya pernah dijebloskan ke penjara
Jatinegara oleh Polisi Militer Jepang karena ikut menggerakkan demonstrasi di Lapangan
Ikada pada 19 September 1945. Keduanya juga pernah ditangkap dan ditawan di Pulau
Onrust, Jakarta Utara, selama tujuh bulan.


Keduanya bersama memilih jalan komunis dan berguru ke tokoh-tokoh komunis senior.
Saat menjadi penghuni Menteng, mereka misalnya menjalin kontak dengan Widarta,
penanggung jawab organisasi bawah tanah PKI Jakarta. Widarta adalah kawan akrab
Wikana, pemimpin PKI Jawa Barat yang terkenal cerdas. Aidit dan Lukman terkesan pada
Wikana.


Sampai-sampai, setelah bebas dari Onrust, mereka mencari Wikana di Yogyakarta. Di
Yogya saat itu, pemimpin PKI Sardjono, eks Digulis, baru saja memindahkan kantor pusat
PKI di Jalan Boemi 29, Solo, ke Jalan Bintaran, Yogyakarta. Aidit dan Lukman kemudian
tinggal di Yogya. Mereka menghidupkan majalah dwibulanan Bintang Merah. Di sinilah
keduanya lalu bertemu Njoto. Njoto saat itu 19 tahun. Pemuda berkacamata tebal itu
adalah wakil PKI Banyuwangi dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).
Sejak itulah terjalin persahabatan antara Aidit, Njoto, dan Lukman. Saat KNIP bersidang di
Malang pada Maret 1947, Aidit terpilih menjadi Ketua Fraksi PKI, Njoto memimpin Badan
Pekerja KNIP. Aidit, Njoto, dan Lukman kemudian masuk Komisi Penterjemah PKI di
awal 1948, yang tugasnya menerjemahkan Manifes Partai Komunis karya Karl Marx dan
Friedrich Engels.



Pada Agustus 1948, tiga serangkai ini sama-sama menjadi anggota Comite Central PKI.
Aidit mengurus agraria, Lukman di sekretariat agitasi dan propaganda, sedangkan Njoto
menjalin relasi dengan badan-badan perwakilan.


Hingga pecahlah geger Madiun….


Aidit sempat tertangkap, tapi dibebaskan karena tak ada yang mengenalnya. Ibarruri Putri
Alam, putri sulung Aidit, melukiskan, ayahnya bisa lolos ke Jakarta dengan menyamar
menjadi pedagang Cina. ”Rambutnya digundul habis, Papa ikut iring-iringan konvoi
barang.” Njoto dan Lukman, kemudian menyusul Aidit ke Jakarta.
Di Jakarta, trio Aidit-Lukman-Njoto ditempa. ”Mereka menggodok orientasi partai,” kata
Sumaun Utomo, kini 85 tahun, bekas Ketua Lembaga Sejarah CC PKI, mengenang.
Terbunuhnya banyak kader dalam Peristiwa Madiun membuat mereka harus mandiri.
”Mereka jadi independen karena tak punya lagi tempat bertanya,” kata Murad Aidit dalam
bukunya, Aidit Sang Legenda.


Mereka diam-diam memperluas jaringan PKI di Jakarta dengan membentuk Onder Seksi
Comite di tingkat kecamatan. Adapun organisasi dijalankan lewat sistem komisariat di
Comite Central. Situasinya sulit karena setiap kabinet alergi komunisme.
Sampai-sampai itu membuat trio Aidit-Lukman-Njoto harus bersembunyi dengan
menyamar. Aidit dan Lukman bahkan pernah disiarkan pergi ke Cina pada 1949. Padahal
itu hanya bualan belaka untuk mengecoh pengejaran. Ada yang bilang sesungguhnya
mereka ke Medan. Ada yang bilang ke Jakarta. ”Mereka sering menginap di rumah seorang
kawan di Kemayoran,” tulis sejarawan Prancis, Jacques Leclerc, dalam Aidit dan Partai Pada
Tahun 1950.


Dalam situasi serba repot itu, Aidit dan Lukman justru nekat kembali menerbitkan Bintang
Merah pada 15 Agustus 1950. Dua pekan sekali mereka meluncurkan stensilan Suara
Rakjat, embrio Harian Rakjat yang menjadi koran terbesar dengan oplah 55 ribu per hari.
Njoto bergabung di redaksi pada Januari 1951.


Dua tahun kemudian, tiga sahabat kelompok Bintang Merah ini memimpin partai. Aidit
menjadi sekretaris jenderal, Lukman wakil sekjen I, dan Njoto wakil sekjen II (jabatan ini
diganti menjadi ketua dan wakil ketua pada 1959).


Sebagai ketua, Aidit memelototi politik secara umum. Lukman, yang jago main sepak
bola, memimpin Front Persatuan. Urusan agitasi dan propaganda kini diemban Njoto. Tak
cuma berorganisasi, untuk meluaskan jaringan, mereka mendirikan sekolah, dari tingkat
dasar sampai universitas.


Usaha itu berbuah. Pada Pemilihan Umum 1955, PKI menclok di urutan keempat. Hasil itu
membuat Aidit optimistis partainya bisa meraih posisi nomor satu sebelum 1975. ”Asalkan
keadaan berjalan normal,” kata Murad mengutip ucapan kakaknya.
Kenyataannya, cita-cita itu terempas. Tragedi 1965 menguak cerita bahwa tiga sekawan itu,
meski di luar tampak guyub, ternyata tidak melulu solid.


Aidit dan Njoto, misalnya, amat berbeda pendapat soal teori revolusi. Aidit percaya kup
yang didukung sedikitnya 30 persen tentara bisa bermutasi menjadi revolusi. Aidit saat itu,
menurut Manai Sophiaan (almarhum)—dalam sebuah tulisannya—terinspirasi oleh
kudeta di Aljazair pada Juni 1965. Saat itu Kolonel Houri Boumedienne mengambil alih
kekuasaan dari tangan Presiden Ben Bella.


Sebaliknya, Njoto justru mempertanyakan kesahihan teori itu. Bahkan, dalam
wawancaranya dengan koresponden Asahi Shimbun di Jakarta pada 2 Desember 1965—dua
pekan sebelum ia dinyatakan ”hilang”—ia tak yakin Gerakan 30 September dapat
dikategorikan sebagai kudeta yang bisa menjadi revolusi. ”Revolusi siapa melawan siapa?”
kata Njoto. Ia bahkan menyangsikan premis Letnan Kolonel Untung soal Dewan Jenderal
bisa membenarkan kup.


Soetarni, bekas istri Njoto—kini 79 tahun—ingat, sesungguhnya menjelang petaka 1965
suaminya yang pandai main musik dan dandy sudah disingkirkan Aidit. Masalahnya adalah
kedekatan Njoto dengan Soekarno. Njoto kerap menulis naskah pidato si Bung. Soekarno
pernah menyebut Njoto sebagai Marhaen sejati. Aidit malah melihat Njoto ”dipakai”
Soekarno. ”Di mata Soekarno, Njoto pertama-tama adalah nasionalis, itu baru komunis,”
kata Aidit saat itu.


Tapi, menurut Sumaun, Njoto tersingkir karena punya pacar orang Rusia. Namanya Rita.
Gara-gara itulah seluruh posisi dipreteli oleh Aidit. Tidak etis, menurut Aidit, seorang
pentolan partai yang sudah berkeluarga memiliki pacar.


Saat ditanyai Tempo bagaimanakah sesungguhnya hubungan Njoto dan Rita, Soetarni tak
menyembunyikan hal itu. Ia mengaku semula tidak menaruh curiga pada Rita. Mereka
bahkan kerap bertukar suvenir. Rita mengiriminya kosmetik, Soetarni membalasnya
dengan batik. Hingga datanglah sepucuk surat dari Rusia. Isinya: perempuan 20-an tahun
itu jatuh cinta dan ingin menikahi suaminya.


Soetarni jelas marah. Tapi anak ningrat Solo itu cuma bisa menumpahkannya kepada salah
satu pamannya. ”Njoto tahu kalau saya marah. Ia kemudian minta maaf,” kata Soetarni.
Njoto akhirnya disidang CC. Ia dipecat dari Biro Agitasi dan dari kursi Pemimpin Redaksi
Harian Rakjat. ”Hal itu dilakukan karena bila dibiarkan akan merusak partai di mata orang
lain,” kata Sumaun.


”Three Musketeers” retak. Lalu terjadilah tragedi 1965….


*** Dua Wajah Dipa Nusantara ***


EMPAT puluh dua tahun berlalu dan kini kita mengenang lelaki itu dengan kebencian dan
rasa kagum. Dipa Nusantara Aidit memimpin Partai Komunis Indonesia pada usia belia, 31
tahun. Ia hanya perlu setahun untuk melambungkan PKI ke dalam kategori empat partai
besar di Indonesia. PKI mengklaim memiliki 3,5 juta pendukung dan menjadi partai
komunis terbesar di dunia setelah Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina. Aidit memimpikan revolusi,
ia berkhayal tentang Indonesia tanpa kelas. Tapi ia terempas dalam
prahara 1965. Setelah itu, ia jadi mitos. Seperti juga peristiwa G-30-S, kisah tentangnya
dipenuhi mitos dan pelbagai takhayul. Siapa Aidit ini sebenarnya?


BERTAHUN-TAHUN orang mengenalnya sebagai ”si jahat”. Lelaki gugup berwajah dingin
dengan bibir yang selalu berlumur asap rokok. Bertahun-tahun terdengar kalimat-kalimat
ini meluncur dari mulutnya: ”Djawa adalah kunci…”; ”Djam D kita adalah pukul empat
pagi…”; ”Kita tak boleh terlambat…!”


Dipa Nusantara Aidit pada 1980-an adalah Syu’bah Asa. Seniman dan wartawan ini
memerankan Ketua Umum Comite Central Partai Komunis Indonesia itu dalam film
Pengkhianatan G-30-S/PKI. Setiap 30 September film itu diputar di TVRI. Lalu di depan
layar kaca kita ngeri membayangkan sosoknya: lelaki penuh muslihat, dengan bibir
bergetar memerintahkan pembunuhan itu.


Di tempat lain, terutama setelah Orde Baru runtuh dan orang lebih bebas berbicara, PKI
didiskusikan kembali. Juga Aidit. Pikiran-pikirannya dipelajari seperti juga doktrin-doktrin
Marxisme-Leninisme. Dalam sebuah diskusi di Yogyakarta, seorang penulis muda pernah di
luar kepala mengutip doktrin 151—ajaran dasar bagi kaum kiri dalam berkesenian. Diamdiam
komunisme dipelajari kembali dan Aidit menjadi mitos lain: sang idola.


Dia memulai ”hidup” sejak belia. Putra Belitung yang lahir dengan nama Achmad Aidit itu
menapaki karier politik di asrama mahasiswa Menteng 31—sarang aktivis pemuda ”radikal”
kala itu. Bersama Wikana dan Sukarni, ia terlibat peristiwa Rengasdengklok—penculikan
Soekarno oleh pemuda setelah pemimpin revolusi itu dianggap lamban memproklamasikan 
kemerdekaan.  Ia terlibat pemberontakan PKI di Madiun, 1948.


Usianya baru 25 tahun. Setelah itu, ia raib tak tentu rimba. Sebagian orang mengatakan ia
kabur ke Vietnam Utara, sedangkan yang lain mengatakan ia bolak-balik Jakarta-Medan.
Dua tahun kemudian, dia ”muncul” kembali.


Aidit hanya butuh waktu setahun untuk membesarkan kembali PKI. Ia mengambil alih
partai itu dari komunis tua—Alimin dan Tan Ling Djie—pada 1954, dalam Pemilu 1955
partai itu sudah masuk empat pengumpul suara terbesar di Indonesia. PKI mengklaim
beranggota 3,5 juta orang. Inilah partai komunis terbesar di dunia setelah Uni Soviet dan
Republik Rakyat Cina.


Dalam kongres partai setahun sebelum pemilu, Aidit berpidato tentang ”jalan baru yang
harus ditempuh untuk memenangkan revolusi”. Dipa Nusantara bercita-cita menjadikan
Indonesia negara komunis. Ketika partai-partai lain tertatih-tatih dalam regenerasi kader,
PKI memunculkan anak-anak belia di tampuk pimpinan partai: D.N. Aidit, 31 tahun, M.H.
Lukman (34), Sudisman (34), dan Njoto (27).


Tapi semuanya berakhir pada Oktober 1965, ketika Gerakan 30 September gagal dan
pemimpin PKI harus mengakhiri hidup di ujung bedil. Aidit sendiri tutup buku dengan
cara tragis: tentara menangkapnya di Boyolali, Jawa Tengah, dan ia tewas dalam siraman
satu magazin peluru senapan Kalashnikov serdadu.


LAHIR dari keluarga terpandang di Belitung, Sumatera Selatan, 30 Juli 1923, D.N. Aidit
adalah anak sulung dari enam bersaudara—dua di antaranya adik tiri.
Ayahnya, Abdullah Aidit, adalah mantri kehutanan, jabatan yang cukup terpandang di
Belitung ketika itu. Ibunya, Mailan, lahir dari keluarga ningrat. Ayah Mailan seorang tuan
tanah. Orang-orang Belitung menyebut luas tanah keluarga ini dengan ujung jari: sejauh
jari menunjuk itulah tanah mereka. Adapun Abdullah Aidit adalah anak Haji Ismail,
pengusaha ikan yang cukup berhasil.


Tak banyak fakta yang menguraikan kehidupannya pada periode Belitung ini kecuali
keterangan dari Murad Aidit, anak bungsu Abdullah-Mailan. Meski disebut-sebut bahwa
Achmad adalah kakak yang melindungi adik-adiknya, ada pula cerita yang menyebutkan
ia sebetulnya tak peduli benar dengan keluarga. Kepada Murad, suatu ketika saat mereka
sudah di Jakarta, Aidit pernah mengatakan satu-satunya hal yang mengaitkan mereka
berdua adalah mereka berasal dari ibu dan bapak yang sama. Tidak lebih. Dengan kata lain,
Achmad tak peduli benar soal ”akar”.


Di Belitung, ia bergaul dengan banyak orang. Ia menjadi bagian dari anak pribumi, tapi
juga bergaul dengan pemuda Tionghoa. Simpatinya kepada kaum buruh dimulai dari
persahabatannya dengan seorang pekerja Gemeenschapelijke Mijnbouw Billiton, tambang
timah di kampung halamannya.


Tapi seorang bekas wartawan Harian Rakjat, koran yang berafiliasi dengan PKI, menangkap
kesan lain tentang Aidit. Katanya, Dipa Nusantara bukan orang yang mudah didekati. Ia
tegang, ia tak ramah. ”Saya tak pernah merasa nyaman bila bersamanya,” kata bekas
wartawan itu. Dalam hal ini, potret Arifin C. Noer, sutradara Pengkhianatan G-30-S/PKI,
tentang Aidit mungkin tak kelewat salah: Aidit adalah pegiat partai yang dingin—
mungkin cenderung kering.


Tak seperti Njoto, ia tak flamboyan. Ia tak main musik. Kisah cintanya jarang terdengar,
kecuali dengan Soetanti, dokter yang belakangan menjadi istrinya. Pernah terdengar kabar
ia menyukai seorang gadis yang juga dicintai sastrawan kiri, Utuy Tatang Sontani. Tapi tak
ada perselisihan yang berarti. Ketika gadis itu menikah dengan lelaki lain, keduanya cuma
tersenyum simpul.


Aidit memang menulis puisi, tapi sajak-sajaknya miskin imajinasi. Puisi-puisinya pernah
ditolak dimuat di Harian Rakjat, koran yang sebetulnya berada di bawah kendalinya.
Untuk itu ia murka, ia membanting telepon. Ada dugaan ia menulis sajak karena Mao
Tse-Tung menulis sajak. Dikabarkan pernah pula ia berenang di sepotong sungai di Jakarta
karena tahu Ketua Mao pernah menyeberangi Sungai Yang-Tse di Cina.
Tapi, apa pun, ia memimpin partai yang berhasil—setidaknya sampai G-30-S membuatnya
porak-poranda. Kini peristiwa itu dikenal dengan pelbagai tafsir dengan Aidit sebagai
tokoh yang selalu disebut.


Buku putih pemerintah Orde Baru menyebutkan PKI adalah dalang prahara itu. Tujuannya
jelas: menjadikan Indonesia sebagai negara komunis. Hasil studi sejumlah Indonesianis asal
Cornell University, Amerika Serikat, menyimpulkan kejadian itu adalah buah konflik
internal Angkatan Darat. Studi ini disokong penelitian lain yang dilakukan Coen
Holtzappel.


Ada pula yang yakin Amerika Serikat dan CIA yang menjadi dalang. Bekerja sama dengan
klik tertentu dalam Angkatan Darat, AS memprovokasi PKI untuk menjatuhkan Soekarno.
Peneliti Geoffrey Robinson termasuk yang mempercayai skenario ini.
Yang lain percaya ada skenario Inggris dan CIA yang bertemu untuk menjatuhkan
Soekarno yang prokomunis. Ada pula yang berpendapat G-30-S adalah skenario Soekarno
untuk melenyapkan oposisi tertentu dalam Angkatan Darat.


D.N. AIDIT sebetulnya punya sejumlah modal untuk melancarkan revolusi—sesuatu yang
dipercaya kaum komunis bisa menjadikan masyarakat lebih baik: masyarakat tanpa kelas. Ia
dekat dengan Soekarno, ia punya massa. Tapi PKI punya kelemahan: mereka tak punya
tentara. Pengalaman partai komunis di banyak negara menunjukkan kekuatan bersenjata
di bawah kendali partai adalah esensial karena, seperti kata Mao, kekuasaan lahir dari laras
bedil. PKI pernah mengusulkan dibentuknya angkatan kelima—dengan mempersenjatai
buruh dan tani—tapi gagasan itu segera ditentang tentara.


Mengatasi keadaan, Aidit datang dengan teorinya sendiri. Sebuah revolusi bisa dimulai
dengan kudeta asalkan kup itu disokong 30 persen tentara. Kabarnya, gagasan ini sempat
dipersoalkan aktivis partai komunis negara lain karena ide itu tak ada dalam ajaran
Marxisme.


Di sinilah muncul spekulasi bahwa Aidit ”berjalan sendiri”. Indikasi yang paling sering
disebut adalah ketika ia mendirikan Biro Chusus bersama Sjam Kamaruzzaman—tokoh
misterius yang bahkan tak banyak dikenal oleh petinggi PKI sendiri. Pendirian Biro Chusus
menjadi bahan gunjingan karena dilakukan tanpa konsultasi dengan anggota Comite Central yang lain. 
Sudisman menyebut ada dua faksi dalam partainya: PKI legal dan PKI
ilegal. Yang terakhir ini adalah sindiran Sudisman terhadap Biro Chusus.
Itulah sebabnya, di hadapan seorang wartawan Harian Rakjat, 6 Oktober 1965, Njoto
pernah bertanya kepada Lukman tentang apa yang terjadi dengan G-30-S. Lukman
menggeleng.


Njoto, dalam wawancaranya dengan Asahi Shimbun, 2 Desember 1965—dua pekan
sebelum ia dinyatakan ”hilang”—menyerang keyakinan Aidit tentang kudeta yang bisa
bermutasi menjadi revolusi itu. ”Revolusi siapa melawan siapa? Apakah dengan demikian
premis Untung (Letnan Kolonel Untung, pemimpin aksi G-30-S—Red.) mengenai
adanya Dewan Jenderal itu membenarkan coup d’etat?” tanya Njoto.
Aiditkah dalang tunggal prahara G-30-S? Dalam diskusi internal redaksi Tempo, Ibarruri
Putri Alam, anak sulung D.N. Aidit, menyangkalnya. Iba, kini bermukim di Paris, Prancis,
meyakini bapaknya pun tak tahu-menahu soal pembunuhan para jenderal. Dari sejumlah
studi yang dibacanya, ditemukan bahwa saat dibawa ke Halim, Jakarta Timur, oleh aktivis
PKI tak lama setelah pembunuhan terjadi, Aidit bertanya-tanya, ”Saya mau dibawa ke
mana?”


Di sinilah muncul spekulasi lain: Aidit ditelikung Sjam Kamaruzzaman. Skenario ini bukan
tak punya argumentasi. Sebuah studi misalnya mengutip keterangan Mayor Angkatan
Udara Soejono yang berbincang dengan Aidit pada 30 September malam. Kepada
Soejono, Aidit membenarkan kabar bahwa informasi-informasi penting yang ditujukan
kepadanya harus melalui Sjam.


Persoalannya, menurut Soejono, rapat-rapat Politbiro menjelang G-30-S hanya
memerintahkan penangkapan para jenderal—untuk diserahkan kepada Bung Karno—
bukan pembunuhan. Ketidaksetujuan terhadap analisis militer Sjam juga telah disampaikan
seorang komandan batalion gerakan yang kemudian ditahan di Rumah Tahanan Militer
Salemba.

Begitukah? Tak pernah ada jawaban tunggal atas prahara yang menewaskan ratusan ribu
orang tersebut. Tidak buku putih Orde Baru, tidak juga keyakinan Ibarruri. Sejarah adalah
sebuah proses menafsirkan.


Apa yang disajikan dalam Liputan Khusus Tempo kali ini adalah upaya mengetengahkan
versi-versi itu. Juga ikhtiar membongkar mitos tentang D.N. Aidit. Bahwa ia bukan
sepenuhnya ”si brengsek”, sebagaimana ia bukan sepenuhnya tokoh yang patut jadi
panutan.




*** Masa Kecil di Belitung ***


Datang dari keluarga terhormat, bibit komunisme tumbuh dalam diri Aidit ketika
menyaksikan nasib buruh kecil di perusahaan tambang timah di Belitung.
ACHMAD Aidit lahir pada 30 Juli 1923 di Jalan Belantu 3, Pangkallalang, Belitung.
Ayahnya Abdullah Aidit dan ibunya Mailan. Abdullah adalah mantri kehutanan, jabatan
yang cukup bergengsi di Belitung ketika itu. Mailan lahir dari keluarga ningrat Bangka
Belitung.


Ayah Mailan bernama Ki Agus Haji Abdul Rachman. Titel ki pada nama itu mencirikan ia
ningrat. Dia juga tuan tanah. Orang-orang Belitung menyebut luas tanah keluarga ini
dengan ujung jari. Maksudnya, sejauh jari menunjuk, itulah tanah mereka. Adapun
Abdullah Aidit, anak Haji Ismail, seorang pengusaha ikan yang makmur. Mereka memiliki
puluhan sero, semacam tempat penangkapan ikan di laut, dan pemasok ikan terbesar ke
sejumlah pasar.

Ya, Achmad yang belakangan berganti nama menjadi Dipa Nusantara (D.N.) Aidit
memang datang dari keluarga terhormat.


Karena datang dari kaum terpandang itulah keluarga ini gampang bergaul dengan polisi di
tangsi, orang-orang Tionghoa di pasar, dan none-none Belanda di Gemeenschapelijke
Mijnbouw Billiton, sebuah perusahaan tambang timah milik Belanda.
Berdiri pada 1825, perusahaan itu hanya dua kilometer dari rumah Aidit. Dinasionalisasi
pada era Soekarno, firma ini berubah menjadi PT Pertambangan Timah Balitung, lalu
ditutup pada April 1991 setelah stok timah di kawasan itu merosot.
Selain mudah bergaul dengan tuan-tuan Belanda, anak-anak Abdullah juga gampang
masuk Hollandsch Inlandsche School (HIS), sekolah menengah pemerintah Belanda ketika
itu. Kini bangunan sekolah itu masih tegap berdiri dan berganti wujud menjadi Sekolah
Menengah Pertama Negeri 1 Tanjung Pandan.


Abdullah punya delapan anak. Semua lelaki. Dari perkawinan dengan Mailan, lahir
Achmad, Basri, Ibrahim (meninggal dunia ketika dilahirkan) dan Murad. Abdullah
kemudian menikah lagi dengan Marisah dan melahirkan Sobron dan Asahan. Keenam
anaknya itu menyandang nama belakang Aidit–nama keluarga, ”Namun bukan marga,”
kata Ibarruri Aidit, putri sulung D.N. Aidit. Dua anak lainnya, Rosiah dan Mohammad
Thaib, adalah anak bawaan Marisah dengan suami sebelumnya.
Walau dididik di sekolah Belanda, anak-anak Abdullah tumbuh dalam keluarga yang rajin
beribadah. Abdullah adalah tokoh pendidikan Islam di Belitung. Dia pendiri Nurul Islam,
organisasi pendidikan Islam dekat kawasan pecinan di kota itu. Hingga kini sekolah itu
masih tegak berdiri.


Sepulang sekolah, Aidit dan adik-adiknya belajar mengaji. Guru mereka Abdurracham,
adik ipar Abdullah. Setelah mengaji, Achmad dan adik-adiknya meluncur ke sungai
mengambil air. Sebagai kakak tertua, Achmad biasanya membawa jeriken paling besar.
Orang-orang di Jalan Belantu mengenal Achmad Aidit sebagai tukang azan. Seperti di
sebagian besar wilayah Indonesia saat itu, Belitung juga belum punya pengeras suara guna
mengumandangkan azan. “Karena suara Bang Achmad keras, dia kerap diminta
mengumandangkan azan,” kata kata Murad Aidit.


Dari delapan anak Abdullah, Achmad adalah yang paling mudah bergaul. Rupa-rupa geng
remaja di Belitung ia dekati. Setidaknya, ada empat geng di sana: geng kampung, anak
benteng, geng Tionghoa, dan geng Sekak.


Geng kampung adalah kumpulan anak pribumi. Achmad dan adik-adiknya masuk
kelompok ini. Anak polisi yang datang dari Jawa masuk kelompok anak benteng atau
kerap juga disebut anak tangsi–menyebut asrama tempat tinggal polisi.
Kelompok ketiga adalah geng Tionghoa. Orang tua mereka berdagang di pasar dan
pelabuhan Belitung. Karena tinggal di pasar, geng itu punya nama lain yakni geng pasar.
Kawasan ini cuma 500 meter dari rumah Aidit. Achmad kerap nongkrong bersama anakanak
geng pasar ini. Saat ini kawasan pecinan itu masih berdiri tegak bahkan berbiak.

Sejumlah toko dan papan jalan ditulis dengan aksara Cina. Kelompok anak muda yang
terakhir adalah geng Sekak. Mereka datang dari keluarga yang kerap berpindah tempat
tinggal, semacam kaum gypsy di Eropa.


Antargeng kerap terjadi baku pukul. Situasi yang serba keras itu membuat Aidit
membesarkan otot. Dia rajin berlatih tinju dan olahraga angkat besi. Mungkin karena
sering angkat besi, tubuh Aidit lebih gempal daripada adik-adiknya.
Aidit menjadi pelindung saudara-saudaranya dari perseteruan antargeng. Tapi dia tidak
main hajar. Suatu hari Murad baku pukul dengan seorang anak geng tangsi. Si bungsu ini
mengadu ke kakak sulungnya itu.


Diam-diam Aidit melacak lawan sang adik. Pulang ke rumah, Aidit bilang kepada Murad,
”Kau lawan saja sendiri.” Dari pelacakan itu, rupanya Aidit tahu bahwa musuh itu masih
sebanding dengan adiknya. Aidit rupanya cuma membantu kalau lawannya lebih besar.
Walau pertikaian cukup sengit, Achmad mudah bergaul dengan pelbagai geng. Dia,
misalnya, kerap pulang malam karena menonton wayang bersama anak-anak benteng di
tangsi. Dia juga kerap nongkrong di pasar bersama anak-anak Tionghoa. Kedekatan
dengan geng ini lantaran mereka satu sekolah di HIS.


Aidit juga rajin menelusuri sungai bersama anak-anak Sekak. Mereka kerap berlomba
berenang di sungai dekat Gunung Tajam, sekitar 20 kilometer dari Belitung. Suatu hari
perlombaan dimulai dengan salto dari sebuah batu besar. Anak-anak gunung
melakukannya dengan sempurna. Tapi Achmad menang, “Karena dia bisa melakukan
kontra-salto,” kata Murad.


Aidit juga kerap melindungi adik-adiknya dari sikap keras sang ayah. Suatu petang Basri
pernah bertindak ceroboh. Dia melepas 15 ekor itik dari kandang milik keluarga itu.
Abdullah yang mendengar kisruh ini murka besar. Melihat adiknya dalam bahaya, Achmad
mengaku dialah penyebab kaburnya itik-itik itu. Tak rela Basri dimarahi, Achmad sejak
petang hingga magrib ke sana-kemari mencari kawanan unggas itu.


Pergaulan Achmad memang lebih laju daripada remaja seusianya. Selain gemar berkumpul
dengan pelbagai kelompok remaja itu, dia juga bergaul dengan buruh di
Gemeenschapelijke Mijnbouw Billiton.


Letak perusahaan itu sekitar dua kilometer dari rumah Aidit. Boleh jadi semangat anti-
Belanda dan perjuangan antikelas di kemudian hari bermula dari tambang itu. Saban hari
Aidit melihat buruh berlumur lumpur, bermandi keringat, dan hidup susah. Sedangkan
meneer Belanda dan tuan-tuan dari Inggris hura-hura.


Perusahaan ini menyediakan societet, gedung khusus tempat petinggi perusahaan dan
none-none Belanda menonton film terbaru sembari menenggak minuman keras. Buruh
tambang itu cuma bisa menelan ludah dan sesekali mengintip bioskop.
Tertarik mendalami hidup para buruh, Achmad mendekati mereka. Tapi tak mudah karena
para buruh cenderung tertutup. Sampai suatu hari Achmad melihat seorang buruh sedang
menanam pisang di pekarangan rumah. Achmad menawarkan bantuan. Tertegun sebentar,
si buruh itu mengangguk. Aidit lalu mencangkul.


Sejak saat itu Aidit bersahabat dengan buruh itu. Kian hari hubungan mereka kian dekat.
Kadang mereka ngobrol sembari menyeruput kopi dan mengudap singkong rebus. Dari
ngobrol-ngobrol santai itulah Aidit kemudian tahu kesulitan para buruh, juga soal pestapora
petinggi tambang.


Pergaulan dengan kaum buruh itu, menurut Murad, yang menentukan jalan pikiran dan
sikap politik Achmad setelah di Jakarta. Hingga akhir ia memimpin partai komunis dan
tenggelam dalam peristiwa yang dikenal dengan Gerakan 30 September.




*** Rumah Tua Mantri Idit ***


RUMAH panggung itu tua dan setia. Di sana-sini, kayunya lapuk dan berjamur. Sebagian
atap berbahan sirap telah koyak dan diganti seng. Hanya kerangka utama yang
menggunakan kayu ulin yang masih kukuh. Selebihnya ringkih dimakan zaman. Itulah
rumah Abdullah Aidit, ayah Dipa Nusantara Aidit—Ketua Umum Partai Komunis
Indonesia.


Dibangun pada 1921 oleh Haji Ismail, kakek D.N. Aidit dari garis bapak, rumah itu terletak
di Jalan Dahlan 12 (dulu Jalan Belantu 3) Dusun Air Berutak, Desa Pangkalalang, Belitung
Barat.


Seperti rumah-rumah lain di Belitung, rumah ini punya dua bangunan utama: rumah
depan dan rumah belakang. Kini yang tersisa hanya rumah belakang berukuran 8×7
meter. Bagian depan dibongkar tak lama setelah Abdullah Aidit meninggal pada 23
November 1965.


Di sana sekarang tinggal Gakdung, 48 tahun, seorang buruh lepas Pelabuhan Tanjung
Pandan asal Bugis. Gakdung tinggal seorang diri. ”Semula dia sewa. Tapi, karena hidupnya
pun susah, biarlah ia cuma-cuma menempatinya,” kata Murad aidit, adik D.N. Aidit.
Ditempati oleh nelayan miskin, rumah itu lusuh tak terawat. Yang tersisa hanya sebuah
bilik, ruang tamu, dan dapur. Di dinding kayu menuju dapur terdapat kalender Partai
Bulan Bintang bergambar Yusril Ihza Mahendra, bekas ketua umum partai itu.
Rumah Abdullah sempat menjadi asrama pelajar asal Kelapa Kampit, Belitung Timur,
sebuah kawasan sekitar 54 kilometer dari Tanjung Pandan. Sekretaris Pemerintah
Kabupaten Bangka Barat, Abdul Hadi Adjin, pernah tinggal di sana.
Antara rumah dan Jalan Dahlan yang memanjang di depannya, terdapat kebun dengan
beberapa pokok pohon pisang dan pohon jengkol. Sebagian kebun ini adalah bekas rumah
depan. Sebagian lagi yang lebih dekat jalan adalah bekas halaman yang kini dipakai untuk
lapangan badminton. Di sanalah dulu Achmad Aidit—nama kecil Dipa Nusantara—berlatih tinju, 
angkat besi, dan senam. Hingga D.N. Aidit hijrah ke Jakarta, halaman rumah
ini masih menjadi lapangan olahraga pemuda kampung Pangkalalang.
Sekitar 20 meter dari rumah tua itu terdapat rumah tua lainnya yang lebih terawat dan
kukuh. Inilah rumah peninggalan Siti Azahra, istri Abdurrachman, qari di kampung itu.
Kepada Abdurrachmanlah dulu Ahmad belajar mengaji Quran. Kini rumah ini dimiliki
Efendi, kerabat Siti Azahra.


Anak-anak Abdullah Aidit juga belajar mengaji kepada Liman, saudara sepupu Azahra.
Rumah Liman tak jauh dari kediaman Siti. Di rumah Liman, Achmad bersama teman
seumurannya juga berlatih kesenian hadrah.


Seratus meter dari rumah Abdullah dulu berdiri surau panggung. Di sinilah Achmad kecil
kerap didapuk mendendangkan azan saat magrib dan isya. Sekarang surau itu sudah rata
tanah dan digantikan Kantor Bank Pembangunan Daerah Sumatera Selatan Cabang
Belitung.


Rosihan, 54 tahun, cucu Siti Azahra, mengungkapkan bahwa sebagian orang yang lahir
sebelum tahun 1970 mengenal rumah ini milik Mantri Aidit. Ini sebutan untuk Abdullah
yang pernah menjadi pegawai Boswezen, dinas kehutanan zaman Belanda. Abdullah
meninggal pada 1968 dalam keadaan yang mengenaskan. Jasadnya baru ditemukan
Marisah, istri kedua Abdullah, tiga hari setelah ia wafat. Pada hari kematian itu, Marisah
tengah pergi ke rumah kerabatnya dan baru pulang tiga hari kemudian. Sepeninggal
Abdullah, Marisah menempati rumah itu hingga akhirnya Sang Khalik memanggilnya pada
1974.


Adakah orang-orang di kampung Air Berutak menghubungkan rumah tua itu dengan
Aidit, tokoh penting Partai Komunis Indonesia? Tidak. ”Buat kami, semua biasa-biasa
saja,” kata Taufan, 52 tahun, cucu Siti Azahra. Semua memang sudah lewat. Yang tersisa
hanya gubuk ringkih beratap sirap—rumah panggung yang tua dan setia.


*** Merantau ke Jakarta ***


Aidit muda tertarik pada politik setibanya di Jakarta. Mendirikan Antara dan berganti
nama. AKU mau ke Batavia,” kata Achmad Aidit kepada ayahnya, Abdullah. Waktu itu awal
1936. Achmad berusia 13 tahun, baru lulus Hollandsch Inlandsche School, setingkat
sekolah dasar masa itu. Di Belitung, tempat tinggal keluarga Aidit, sekolah ”paling tinggi”
memang hanya itu. Untuk masuk sekolah menengah—dikenal dengan nama Meer
Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)—pemuda-pemuda pulau itu harus merantau ke
Medan atau Jakarta.


Meninggalkan Belitung bukan pilihan yang lazim pada masa itu. Pemuda yang merantau
sampai tanah Jawa bisa dihitung dengan jari. Tapi Aidit bisa meyakinkan ayahnya. ”Abang
saya paling jarang meminta sesuatu kepada Bapak,” kata Murad Aidit, adik kandung
Achmad, kepada Tempo, dua pekan lalu. Kalau sudah sampai meminta sesuatu, kata
Murad, itu artinya tekad Aidit sudah benar-benar bulat.


Adik Aidit yang lain, Sobron, dalam bukunya Aidit: Abang, Sahabat, dan Guru di Masa
Pergolakan, menjelaskan bahwa untuk diizinkan merantau, seorang remaja harus
memenuhi empat syarat: bisa memasak sendiri, bisa mencuci pakaian sendiri, sudah
disunat, dan sudah khatam mengaji. Keempat syarat itu sudah dipenuhi Aidit.
Setibanya di Batavia, Achmad Aidit ditampung di rumah kawan ayahnya, Marto, seorang
mantri polisi, di kawasan Cempaka Putih. Sayangnya, pendaftaran MULO sudah ditutup
ketika Aidit tiba di Jakarta. Dia harus puas bersekolah di Middestand Handel School
(MHS), sebuah sekolah dagang di Jalan Sabang, Jakarta Pusat.
Bakat kepemimpinan Aidit dan idealismenya yang berkobar-kobar langsung menonjol di
antara kawan sebayanya. Di sekolahnya yang baru, Aidit mengorganisasi kawannya
melakukan bolos massal untuk mengantar jenazah pejuang kemerdekaan Muhammad
Husni Thamrin, yang ketika itu akan dimakamkan. Karena terlalu aktif di luar sekolah,
Aidit tidak pernah menyelesaikan pendidikan formalnya di MHS.


Tiga tahun di Cempaka Putih, Aidit pindah ke sebuah rumah di Tanah Tinggi 48, kawasan
Senen, Jakarta Pusat. Ketika indekos di sini, Murad datang menyusul dari Belitung, juga
untuk bersekolah di Jakarta.


Menyekolahkan dua anak jauh dari rumah tentu tak mudah untuk keuangan Abdullah
Aidit. Gajinya sebagai mantri kehutanan hanya sekitar 60 gulden sebulan. Dari jumlah itu,
15-25 gulden dikirimnya ke Batavia. Tentu saja jumlah itu juga pas-pasan untuk dua
bersaudara Aidit.


Apalagi ketika masa pendudukan Jepang tiba, pada 1942. Hubungan komunikasi antara
Jakarta dan kota sekitarnya terputus total. Saat itu, dari rumah tumpangannya di Tanah
Tinggi, Aidit menyaksikan ribuan orang berduyun-duyun menjarah gudang-gudang
perkapalan di Pelabuhan Tanjung Priok. Dari pagi sampai sore, aneka jenis barang diangkut
massa ke Pasar Senen, mulai dari ban mobil, mesin ketik, sampai gulungan kain bahan
baju.


Kiriman uang dari Belitung macet. Untuk bertahan hidup, Achmad dan Murad mau tak
mau harus mulai bekerja. Aidit lalu membuat biro pemasaran iklan dan langganan surat
kabar bernama Antara. Lama-kelamaan, selain biro iklan, Antara juga berjualan buku dan
majalah. Tatkala abangnya sibuk melayani pelanggan, Murad biasanya berjualan pin dan
lencana bergambar wajah pahlawan seperti Kartini, Dr Soetomo, dan Diponegoro, di
dekatnya.


Berdagang memang bukan pekerjaan baru untuk Aidit. Ketika masih tinggal di Belitung,
setiap kali ada pertandingan sepak bola di Kampung Parit, Aidit selalu berjualan kerupuk
dan nanas. ”Untuk ditabung,” Sobron berkisah dalam bukunya.


Tak puas dengan perkembangan usahanya, Aidit kemudian mengajak seorang kawan yang
tinggal satu indekos dengannya, Mochtar, untuk berkongsi. Mochtar ini seorang penjahit
yang punya toko lumayan besar di Pasar Baru. Karena lokasi usahanya yang strategis, toko
Mochtar segera menjadi tempat mangkal para aktivis masa itu, seperti Adam Malik dan
Chaerul Saleh. Otomatis, jaringan relasi Aidit meluas.


Ketika Mochtar menikah dan menyewa rumah sendiri di kawasan Kramat Pulo, Aidit dan
Murad ikut pindah ke sana. Kondisi ini menguntungkan Aidit, karena Mochtar sering
membiarkan kakak-beradik itu tidak membayar sewa. ”Pakai saja untuk keperluan lain,”
katanya seperti ditirukan Murad. Tapi, kalau Mochtar sedang butuh duit, setoran uang
sewa Murad akan dimasukkan ke kantong. Biasanya, kalau begitu, Aidit akan menggerutu.
”Kamu sih, terlalu menyodor-nyodorkan uangnya, makanya dia terima,” katanya
memarahi Murad.


Namun situasi ekonomi yang terus memburuk membuat Aidit akhirnya angkat tangan.
Murad diminta tinggal di sebuah asrama korban perang, sebelum dikirim pulang ke
Belitung.



SITUASI politik Ibu Kota yang gegap-gempita sudah menarik minat Aidit sejak awal. Dia
pertama-tama bergabung dengan Persatuan Timur Muda atau Pertimu. Pekumpulan ini
dimotori Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), di bawah pimpinan Amir Syariffudin dan
Dr Ahmad Kapau Gani. Dalam organisasi inilah persinggungan Aidit dengan politik makin
menjadi-jadi. Hanya dalam waktu singkat, Aidit diangkat menjadi Ketua Umum Pertimu.
Di balik karier politiknya yang mulai menjulang, Aidit seperti mencoba mengibaskan
bayang-bayang keluarga dan masa lalunya di Belitung. Ketika Murad berkali-kali meminta
bantuan finansial, misalnya, Aidit selalu menolak. Suatu kali Aidit bahkan berujar bahwa
persamaan di antara mereka hanyalah faktor kebetulan, karena dilahirkan dari ibu dan
bapak yang sama. ”Selebihnya, tak ada hubungan apa pun di antara kita,” katanya.
Sekitar masa-masa itulah Achmad Aidit memutuskan berganti nama. Dia memilih
memakai nama Dipa Nusantara—biasa disingkat D.N. Menurut adik-adiknya, pergantian
nama itu lebih dipicu perhitungan politik Aidit. ”Dia mulai membaca risiko,” kata Murad.
Sejak namanya berubah itu memang tak banyak orang yang tahu asal-usul Aidit. Dia
sering disebut-sebut berdarah Minangkabau, dan D.N. di depan namanya adalah singkatan
”Djafar Nawawi”.


Proses perubahan nama itu juga tak mudah. Abdullah, ayah Aidit, tak bisa dengan segera
menerima gagasan anaknya. Di depan anak-anaknya, Abdullah mengaku tidak bisa
menerima rencana pergantian nama itu karena nama Achmad Aidit sudah kadung tercetak
di slip gajinya sebagai putra sulung keluarga itu. Akan muncul banyak persoalan jika nama
itu mendadak lenyap dari daftar keluarga.


Abdullah dan Aidit bersurat-suratan beberapa kali, sebelum akhirnya Abdullah menyerah.
Ayah dan anak itu sepakat, nama D.N. Aidit baru akan dipakai jika sudah ada pengesahan
dari notaris dan kantor Burgelijske Stand—atau catatan sipil.


*** Kisah Cinta ; Meminang Lewat Sepucuk Surat ***


Gaya orasi dan wawasan Aidit memikat hati seorang calon dokter. Sangat antipoligami.
Suatu siang di awal 1946. Kantor majalah dua bulanan Bintang Merah di Jalan Purnosari,
Solo, yang biasanya lengang lengau, kedatangan tamu tak diundang. Dua gadis berdiri di
depan pintu. Mereka kemudian dijamu dua redaktur, Hasan Raid dan Dipa Nusantara
Aidit.


Dua gadis itu mengaku mahasiswi tingkat tiga Perguruan Tinggi Kedokteran di Klaten,
Yogyakarta. Yang agak gemuk dan berpipi bulat memperkenalkan diri sebagai Soetanti.
”Seingat saya, mereka datang untuk silaturahmi saja,” kata Hasan, kini 85 tahun, kepada
Tempo dua pekan lalu.


Soetanti—yang disapa ”Bolletje” (sebuah kata Belanda yang berarti bundar) oleh teman-temannya—
datang lagi beberapa hari kemudian, dengan kawan lain yang lebih banyak.
Kali ini atas nama Sarekat Mahasiswa Indonesia. Mereka mengundang Aidit sebagai Ketua
Departemen Agitasi dan Propaganda Partai Komunis Indonesia Solo untuk memberikan
”kuliah” soal politik dan keorganisasian.


Karena urusan organisasi itulah Soetanti kerap bolak-balik Klaten-Solo. Kunjungan
berikutnya tak lagi ke kantor Bintang Merah, tapi ke kantor PKI di Jalan Boemi 29. Dari
pertemuan-pertemuan itulah, kata Hasan, hubungan Aidit-Soetanti kian akrab. Padahal
keduanya punya watak bertolak belakang.


Sebagai seorang ningrat Mangkunegaran (kakeknya seorang Bupati Tuban), Tanti punya
banyak teman dari pelbagai golongan. Predikat mahasiswi kedokteran membuatnya kian
dihormati dalam organisasi dan dalam kehidupan sehari-hari. Itu disokong sifat dasarnya
yang periang, gampang akrab, dan suka bicara ceplas-ceplos.
Beda dengan Aidit. Anak seorang mantri kehutanan dari Belitung itu seorang pemuda
serius, tak pandai berkelakar, dan suka musik klasik. Yang dipikirkannya hanyalah
bagaimana memajukan partai. Mengobrol dengannya, seperti dikenang Hasan, tak akan
lepas dari soal-soal politik, revolusi, dan patriotisme.


Tapi justru inilah yang membuat Soetanti kesengsem. Dalam ceramahnya, Aidit fasih
mengutip filsafat Marxisme, mengurai revolusi Prancis dan Rusia, juga soal-soal politik
mutakhir. Setiap kali Aidit berpidato, si bolle senantiasa menyimak di bangku paling
depan.


Meski akrab, Aidit-Tanti tak pernah terlihat berduaan. Hasan Raid, yang kemudian
diangkat anak oleh Siti Aminah—ibu Tanti—karena sama-sama dari Minang, tak pernah
melihat Aidit ngapel ke asrama atau ke rumah Tanti laiknya orang pacaran. Pertemuan
keduanya pun selalu dalam acara organisasi. ”Kalau menginap di kantor PKI, Tanti datang
beramai-ramai,” katanya.


Suatu ketika, seusai pidato, Aidit menghampiri Tanti, lalu menyerahkan sepucuk surat
yang ditujukan kepada Bapak Moedigdo, ayah Tanti, seorang kepala polisi Semarang yang
aktif di Partai Sosialis Indonesia. Surat itu ternyata surat lamaran. Aidit menyampaikan niat
meminang Soetanti. Moedigdo langsung setuju.


Maka, awal 1948, Aidit, 25 tahun, dan Soetanti, 24 tahun, menikah secara Islam tanpa
pesta, di rumah KH Raden Dasuki, sesepuh PKI Solo, yang bertindak sebagai penghulu.
Moedigdo, Aminah, dan empat adik Soetanti datang. Hanya Murad dan Sobron—dua adik
Aidit—yang mewakili keluarga Belitung.


Setelah menikah, aktivitas Aidit di partai dan pergerakan tak surut. Ia bahkan sering
meninggalkan Soetanti, yang buka praktek dokter, untuk turne ke kampung-kampung
memperkenalkan dan menggalakkan program-program PKI. Ketika pada September 1948
”Peristiwa Madiun” meletus, Aidit ditangkap, lalu ”buron” ke Jakarta. Tanti kian sedih
karena ayahnya, yang mendukung Amir Syarifuddin, tewas ditembak.
Di Jakarta pun, Aidit jarang ada di rumah. Soetanti hanya ditemani adik-adik Aidit ketika
melahirkan Ibarruri Putri Alam, putri sulung mereka, pada 23 November 1949. Suami-istri
ini jarang terlihat jalan bareng, kecuali dalam acara-acara resmi partai atau kenegaraan.
Aidit lalu menjadi Ketua Politbiro—eksekutif dalam partai—PKI pada 1951. Ia kian sibuk
dengan bepergian ke luar negeri, mengunjungi dan menghadiri rapat-rapat internasional
komunis di Vietnam, Tiongkok, dan Rusia. ”Tak ada mesra-mesraan seperti pasangan
muda lain.” Itu kesaksian Fransisca Fanggidaej, wartawan Harian Rakjat dan radio Gelora
Pemuda Indonesia yang kemudian menjadi anggota parlemen dari PKI pada 1957-1959.
Fransisca, kini 82 tahun dan tinggal di Utrecht, Belanda, adalah satu-satunya perempuan
yang akrab dengan Aidit. Selain di kantor partai, keduanya sering bertemu di parlemen.
Ciri paling menonjol dari keluarga Aidit, kata Fransisca, selain sederhana, juga egaliter.
Sementara anak-anak memanggil dengan sebutan borjuis ”Papa”, Tanti memanggil
suaminya cukup dengan ”Dit”. ”Padahal semua orang menyapa Aidit dengan panggilan
hormat ’Bung’,” katanya. Ketika Fransisca menanyakan ihwal panggilan itu, Tanti
menjawab, ”Suka-suka saya, dong. Wong dia suami saya. Kalau tidak mau, dia pasti
menyampaikan keberatan.”


Selama perkawanan itu, tak sekali pun Aidit curhat soal pribadi kepadanya. Apalagi tentang
hasrat kepada perempuan lain. Padahal Aidit dikagumi banyak perempuan di partai dan di
gedung DPR. ”Selain ganteng, berwawasan luas, ia pandai menyenangkan dan menghargai
orang,” kata Fransisca.


Hanya sekali, pada 1950-an, Aidit dengan guyon menyatakan kagum pada kecantikan
seorang perempuan anggota konstituante. Ismiyati, gadis itu, kata Fransisca, menjadi
kembang parlemen dan disukai banyak laki-laki. Mendengar guyonan Aidit itu, Utuy
Tatang Sontani—sastrawan kiri kondang di zaman itu—menyatakan kekaguman yang
sama. Bisik-bisik, keduanya bersaing menggapai hati Ismiyati.
Tapi agaknya ”persaingan” itu tak serius. Ketika Ismiyati menikah dengan pemuda lain,
Utuy dan Aidit cuma ketawa-ketawa. ”Keduanya sebatas mengagumi kecantikan. Tapi
tidak tahu kalau Utuy, karena dia suka mengejar perempuan,” kata Fransisca, tergelak.
Selain cerita ini, tak pernah terdengar Aidit berhubungan dengan perempuan lain, baik
sebelum maupun setelah bertemu dengan Soetanti. Apalagi Aidit orang yang sangat
antipoligami. Ia pernah memarahi Njoto, Wakil Ketua II Comite Central PKI, yang akan
menikah lagi dengan seorang penerjemah asal Rusia.


Semasa kepemimpinan Aidit, sikap antipoligami dan antiperselingkuhan ini hampir
menjadi ”garis partai”. Oey Hay Djoen, bekas anggota parlemen dan Dewan Pakar
Ekonomi PKI, bercerita, pada masa jayanya banyak anggota PKI yang diskors karena
ketahuan memacari istri orang.



Aidit dan Revolusi 1945 ; Anak Muda di Beranda Republik


Aidit aktif dalam gerakan pemuda menjelang dan setelah proklamasi. Ikut menculik Soekarno dan Hatta?


Pukul 11.30 malam. Sekelompok anak muda bergegas ke luar rumah di Pegangsaan Timur
56, Jakarta. Mula-mula Chaerul Saleh dan Wikana. Lalu D.N. Aidit, Djohar Noer,
Pardjono, Aboebakar, Soedewo, Armansjah, Soebadio Sastrosatomo, Soeroto, dan Joesoef
Koento. Hari itu Rabu, 15 Agustus 1945.


Mereka adalah aktivis pemuda antifasis dari Asrama Menteng 31. Para pemuda itu baru saja
mendesak Soekarno agar memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Tapi Bung
Karno menolak. Mohammad Hatta yang datang belakangan pun tak setuju dengan ide
mereka.


Sebagaimana dicatat Hatta dan Sidik Kertapati—salah seorang tokoh 1945, juga oleh
Soekarno dalam buku Penyambung Lidah Rakyat—terjadi pertengkaran hebat antara
pihak pemuda dan Bung Karno pada malam itu. Inilah malam yang dikenang hingga kini
karena berjasa mempercepat proklamasi Indonesia.


”Sekarang, Bung! Malam ini juga kita kobarkan revolusi,” ujar Chaerul Saleh. ”Kalau Bung
tidak mau mengumumkan proklamasi, besok akan terjadi pertumpahan darah,” sambung
Wikana berapi-api.


Bung Karno marah. ”Ini batang leherku,” katanya setengah berteriak sambil mendekati
Wikana. ”Seret saya ke pojok itu dan potong malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu
esok hari!”


”Mereka pulang marah-marah,” cerita Murad Aidit. Murad melihat kakaknya mengikuti
rapat rahasia di bawah pohon jarak. Tepatnya di belakang kebun bekas Institut Bakteriologi
Ejkman di Pegangsaan, empat jam sebelumnya. Aidit datang bersepeda membonceng
Wikana.

Sudah lama para pemuda mendesak golongan tua agar memproklamasikan kemerdekaan.
Soalnya, dari radio BBC, London, mereka mendengar kabar bom atom di Hiroshima dan
Nagasaki, Jepang. Mereka khawatir, Jepang akan mengembalikan Indonesia kepada
Belanda. Golongan tua tak sependapat. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia memilih
menunggu instruksi dari Jepang.


Setelah Bung Karno menolak, Kamis dini hari itu, para pemuda yang dipimpin oleh
Soekarni nekat menjalankan rencana B, yakni menculik dan membawa Soekarno-Hatta ke
Rengasdengklok, Karawang.


Ada beragam versi peran Aidit, ketika itu 22 tahun, di seputar proklamasi. Cerita
keikutsertaan Aidit ke rumah Soekarno dituturkan Sidik Kertapati dalam buku Sekitar
Proklamasi 17 Agustus 1945. Dalam tulisannya Sidik menyebut Aidit juga ikut rombongan
pemuda menculik Soekarno-Hatta. Kitab Sejarah Perjuangan Pemuda Indonesia terbitan
Balai Pustaka—oleh Panitia Penjusun Biro Pemuda Departemen P&K—mencatat hal yang
sama.


Hanya banyak juga rekaman sejarah yang tak menyebut keterlibatan Aidit dalam ”perang”
antara kaum muda dan kaum tua menjelang proklamasi. Kepada Z. Yasni–tertuang dalam
buku Bung Hatta Menjawab–Hatta menegaskan Aidit tak ada di rumah Bung Karno
malam itu. Dia cuma mengingat Wikana dan Soekarni. Sedangkan dalam buku Menteng
31 Membangun Jembatan Dua Angkatan, A.M. Hanafi mengatakan bahwa Aidit terlibat
karena mengantarkan Wikana.


Murad tak ingat pasti apakah Aidit ikut membawa Soekarno ke Rengasdengklok. Syodanco
Singgih, anggota PETA, yang bersama Soekarni membawa Soekarno-Hatta, pun tak
menyebut kehadiran Aidit dalam rombongan ”penculik” (Tempo, Agustus 1975).
Aidit memang aktif dalam kelompok pemuda antifasis yang bergerilya di Jakarta pada
masa pendudukan Jepang hingga kembalinya Belanda. Soekarno dan Hatta bahkan
mengenalnya dengan baik sejak periode awal Angkatan Baru Indonesia di Asrama
Menteng 31.


Menteng 31 dulunya hotel bernama Schomper I. Setelah Belanda pergi pada 1942 tempat
itu menjadi salah satu basis perlawanan anak muda. Di tempat yang kini berubah nama
menjadi Gedung Joang 45 itu, Aidit dan teman-teman mendapat gemblengan dari bapak
bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, Amir Syarifudin, Ahmad Soebardjo, dan Ki Hajar
Dewantara.


Budayawan dan penerjemah Oey Hay Djoen mengatakan, Hatta amat menyukai Aidit
yang cerdas dan berani. ”Belakangan, ketika Aidit mulai terlibat dengan kelompok kiri,
Hatta marah,” ujarnya. Maklum, Aidit dekat dengan Wikana, yang memimpin perjuangan
PKI bawah tanah di Jawa Barat. Buku-buku bertema Marxisme dan sosialisme menjadi
bacaan utamanya.


Aidit dan Wikana kian rapat setelah Laksamana Maeda, pimpinan Angkatan Laut Jepang di
Indonesia, mendirikan sekolah Dokuritsu Juku (Asrama Kemerdekaan). Saat itu sekitar
setahun sebelum proklamasi. Wikana menjadi kepala sekolah tersebut. Aidit, M.H.
Loekman, Sidik Kertapati, Chalid Rasjidi, dan puluhan pemuda lain menjadi siswa.
Nishijima, salah seorang pengasuh sekolah ini, mengatakan, ”Meski tak menyelesaikan
kuliah, pelajar sekolah ini ikut berperan dalam mendirikan Republik” (Tempo, Agustus,
1987).


Sekolah ini memanfaatkan fasilitas Kaigun (Angkatan Laut Jepang) di belakang Komando
Angkatan Laut Gunung Sahari, Jalan Defenci van de Bosch—kini Bungur Raya. Di sekolah
inilah diam-diam Aidit, Chalid Rasjidi, dan Salam membentuk organisasi semi-militer
yang beraksi menyerang tentara-tentara Jepang dengan nama Banteng Merah.
Setelah proklamasi kemerdekaan, pada awal September, aktivis Menteng 31 membentuk
Angkatan Pemuda Indonesia (API). Wikana mereka pilih sebagai ketua. Sekretarisnya
H.M. Hanafi. ”Bang Amat (D.N. Aidit) menjadi Ketua API Jakarta Raya,” ujar Murad,
yang terdaftar sebagai anggota API dengan nomor 13.


API segera menjadi momok bagi Jepang, lalu Sekutu yang datang kemudian. Di bidang
keorganisasian mereka membentuk Barisan Rakyat yang mengorganisasi pada petani.

Sidik juga mencatat sebuah pengalaman menarik tentang Aidit sewaktu di lapangan
Ikada—sekarang Monas—pada 19 September 1945. Ketika itu API bersama barisan buruh
dan tani memprakarsai sebuah rapat raksasa untuk menunjukkan dukungan rakyat kepada
para pimpinan negara. Tapi, hingga waktu yang direncanakan, Bung Karno tak juga
muncul. Massa yang datang sejak pagi mulai marah. Tiba-tiba, di bawah todongan
moncong senapan tentara Jepang yang mengelilingi Ikada, Aidit bersama Suryo Sumanto
naik podium. Mereka mengajak massa menyanyikan lagu perjuangan, antara lain Darah
Rakyat, Padamu Negeri, dan Maju Tak Gentar. Massa pun tenang kembali hingga Bung
Karno tiba.


Rapat di lapangan Ikada membuat tentara Jepang naik darah. Mereka merazia Asrama
Menteng 31. Para pemimpin API, termasuk Aidit, M.H. Loekman, Sidik Kertapati, dan
A.M. Hanafi, mereka bawa ke penjara Jatinegara.


Aidit dan teman-teman berhasil menyogok penjaga penjara dan kabur. Dan sejak itu
aktivitas Menteng 31 berhenti. Aidit kembali ke jalan, memimpin API Jakarta melakukan
serangan-serangan ”kecil” kepada tentara Netherlands Indies Civil Administration (NICA)
yang datang membonceng sekutu pada 28 September 1945.
Para aktivis API bermarkas di tepi Jalan Kramat Raya. Sebuah gerbong trem sengaja
mereka taruh di depan pos untuk bersembunyi saat membidik patroli sekutu. Hampir
setiap jip sekutu yang melaju dari Markas Batalion X di Lapangan Banteng menuju
Jatinegara mereka tembaki. Kalau dikejar, mereka berpencar melarikan diri ke
perkampungan Kramat Pulo. Itu terjadi berulang-ulang hingga tentara Sekutu meledakkan
markas API.


Puncak dari aktivitas ”bawah tanah” Aidit pada periode sekitar kemerdekaan adalah pada 5
November 1945. Ketika itu Aidit bersama Alizar Thaib memimpin sekelompok pemuda
menyerbu pos pertahanan Koninklijke Nederlands Indische Lege atau Tentara Kerajaan
Hindia Belanda. Namun mereka sial, kepergok tentara Inggris yang berpatroli dengan lima
truk. Sekitar 30 aktivis tertangkap, termasuk Aidit. Tentara Inggris menyerahkan mereka ke
Belanda, yang lalu membuang mereka ke Pulau Onrust, di gugusan Kepulauan Seribu, utara Jakarta.


Aidit bebas tujuh bulan kemudian, setelah kesepakatan Hoge Voluwe di Belanda pada 24
April 1946. Ketika itu ibu kota negara sudah pindah ke Yogyakarta. Cuma sehari di Jakarta,
dia lalu menyusul teman-temannya ke Yogya, menumpang kereta dari Karawang.


*** Karir di PKI ; Berakhir Seperti Muso ***


Muso mengubah paham revolusioner Dipa Nusantara Aidit menjadi aksi.
Keduanya telah mencoba, keduanya gagal.


KEDATANGAN Muso dari Rusia membangkitkan gairah revolusi Dipa Nusantara Aidit. Ia
begitu terkesan pada gagasan Muso, ”Jalan Baru bagi Republik”. Menurut arsitek
pemberontakan PKI di Jawa dan Sumatera pada 1926 itu, yang kemudian dilibas Belanda,
seluruh kekuatan sosialis komunis harus disatukan. Untuk merebut kekuasaan, PKI tak
boleh bergerak sendiri.


Pada pertengahan 1948 itu, Aidit muda ditugasi mengkoordinasi seksi perburuhan partai.
Padahal umurnya baru 25 tahun, banyak yang lebih senior dan berpengalaman. Posisi
strategis ini merupakan kepercayaan besar bagi lelaki tamatan sekolah dasar itu.
Muso mencela Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus. Menurut dia, revolusi itu justru
merupakan kegagalan besar kaum revolusioner. Kepemimpinan nasional jatuh ke tangan
individu yang ditudingnya borjuis: Soekarno-Hatta. Bukan ke genggaman kaum proletar,
buruh dan tani. Sikap ini diyakini Aidit. Baginya, kehadiran Muso menjanjikan aksi, bukan
sekadar angan revolusi.


Hanya sebulan setelah Aidit menerima jabatan koordinator seksi perburuhan partai,
tepatnya pada dini hari 18 September 1948, tiga letusan pistol menyalak di kesunyian Kota
Madiun, Jawa Timur. Massa yang menyebut dirinya kaum revolusioner bergerak. Puluhan
ribu buruh dan tani merangsek mengambil alih kekuasaan pemerintah di daerah-daerah.
Muso mencoba mendirikan apa yang disebutnya ”Soviet Republik Indonesia”. Madiun,
Magetan, Cepu, Blora, dan sejumlah kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikuasai massa
PKI. Bendera merah bergambar palu arit ditancapkan di banyak tempat. Soekarno meminta
rakyat memilih: dirinya atau Muso, yang dicapnya sebagai pengkhianat Republik. Muso
balik menuduh Soekarno-Hatta sebagai kolaborator imperialis. Ini fase penting sekaligus
genting bagi karier politik Aidit. Aksi massa revolusioner di lapangan berujung getir. 
Mayoritas pimpinan partai tertangkap, lalu dihukum tembak.


Menurut Suripno, seorang pentolan partai yang berakhir di ujung bedil, gerakan gagal
karena sepi dukungan rakyat. Layu dalam dua pekan. Pengalaman itu terasa semakin pahit
bagi Aidit. Mentor yang digugu, Muso, tewas ditembak tentara. Sempat tertangkap di
Yogyakarta, Aidit cukup beruntung lepas karena tak dikenali. Belakangan,
setelah jadi Ketua Comite Central PKI, Aidit menyebut peristiwa itu sekadar
”permainan anak-anak” (kinderspel). Ia menuduh Mohammad Hatta, perdana menteri saat itu,
sebagai pihak yang memprovokasi. Amerika Serikat dicurigai di belakang pemerintah
untuk melawan ”bahaya merah”.


Dari Yogyakarta, Aidit ”hijrah” ke Jakarta, dan dikabarkan kabur ke Beijing, Cina. Namun,
menurut buku karangan Murad Aidit, sang abang bersembunyi di daerah pelabuhan
Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ia memakai nama samaran Ganda.
Bergerak dalam senyap, bersama beberapa yang tersisa, Aidit mencoba membangun
kembali partai yang terserak. Aidit masih setia pada ide Muso. Lewat penerbitan Bintang
Merah, ia menyebarkan lagi paham revolusioner dan anti-imperialis. Ia kerap
mencantumkan nama ”Alamputra” di bawah tulisannya.


Tiga tahun berlalu, karier politik Aidit makin moncer. Ia ”mengkudeta” kelompok PKI tua,
Alimin dkk, yang dinilai melakukan banyak kesalahan. Tan Ling Djie, anggota senior
politibiro, didepak karena perbedaan pandangan politik. Didukung sejumlah aktivis muda
dalam Kongres V PKI, 1951, ia berhasil mencapai posisi Ketua Comite Central PKI.
Aidit terus di puncak kekuasaan itu hingga tak lama setelah Gerakan 30 September 1965.
Seperti Muso, Aidit berakhir diterjang peluru.


Gerakan 30 September ; Dari Menteng ke Pusaran Kekuasaan


Sejumlah kesaksian menyebut D.N. Aidit mengetahui rencana Gerakan 30 September. 
Seberapa jauh dia terlibat?


PERISTIWA 42 tahun lalu itu tetap saja masih menjadi tanda tanya keluarga besar Aidit:
apa sebenarnya peran Aidit dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 itu? Peran Aidit
dalam ”kup” 30 September 1965 memang masih misteri. Sejumlah sejarawan, juga
sejumlah kalangan militer, yakin PKI dalang penculikan dan pembunuhan tujuh jenderal
Angkatan Darat. Karena PKI terlibat, maka Aidit pun, sebagai Ketua Committee Central,
dituding sebagai otaknya.


Murad Aidit, adik kandung Aidit, berkisah. Pada ”malam berdarah” itu tak ada tandatanda
atau kesibukan khusus di rumah Aidit. ”Malah saya dipesan mematikan lampu,” kata
Murad. Menjelang ”peristiwa Gerakan 30 September” itu, Murad memang menginap di
rumah Aidit di Pegangsaan Barat, Jakarta Pusat. Rumah Aidit sepi. ”Sampai sekarang saya
lebih bisa menerima tragedi itu karena ada pengkhianat dalam tubuh PKI,” katanya. Dia
tidak yakin abangnya yang memerintahkan pembunuhan para jenderal.
Aidit mengawali ”karier politiknya” dari Asrama Menteng 31, asrama yang dikenal sebagai
”sarang pemuda garis keras” pada awal kemerdekaan. Di tempat ini berdiam, antara lain,
Anak Marhaen Hanafi (pernah menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Kuba),
Adam Malik, dan Sayuti Melik (pengetik naskah Proklamasi). Para penghuni Menteng 31
sempat menculik Soekarno dan memaksa si Bung memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia—sesuatu yang kemudian ditolak Bung Karno. Di kelompok Menteng 31, Aidit
sangat dekat dengan Wikana, seorang pemuda sosialis.


Aidit disebut-sebut juga berperan dalam pemberontakan PKI di Madiun pada 1948.
Pascapemberontakan yang gagal itu, ia sempat dijebloskan ke penjara Wirogunan, Yogya.
Ketika terjadi agresi Belanda, ia kabur dari penjara dan tinggal di Vietnam Utara. Tentang
kepergiannya ke Vietnam ada pendapat lain. Ada yang menyebut bahwa sebenarnya ia
hanya mondar-mandir Jakarta-Medan.


Yang pasti, pada pertengahan 1950, Aidit, yang saat itu berusia 27 tahun ”muncul” lagi.
Bersama M.H. Lukman, 30 tahun, Sudisman, 30 tahun, dan Njoto, 23 tahun, ia
memindahkan kantor PKI dari Yogyakarta ke Jakarta. Bisa dibilang, dalam kurun waktu
inilah karier politik Aidit sesungguhnya dimulai.


Momentum konsolidasi partai terjadi ketika meletus kerusuhan petani di Tanjung
Morawa, Sumatera Utara, 6 Juni 1953. Kerusuhan yang digerakkan kader PKI itu
menjatuhkan kabinet Wilopo. Kesuksesan ini memompa semangat baru ke tubuh partai
tersebut.


Bersama ”kelompok muda” partai, Aidit menyingkirkan tokoh-tokoh lama partai. Pada
Kongres PKI 1954, pengurus PKI beralih ke generasi muda. Tokoh partai semacam Tan
Ling Djie dan Alimin disingkirkan. Pada kongres itu, Aidit dikukuhkan menjadi Sekretaris
Jenderal PKI. Aidit lantas meluncurkan dokumen perjuangan partai berjudul ”Jalan Baru
Yang Harus Ditempuh Untuk Memenangkan Revolusi”.


Aidit juga membangun aliansi kekuatan dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) untuk
memperkuat PKI. PNI dipilih karena, selain sama-sama anti-Barat, juga ada figur Soekarno
yang bisa dipakai mengatasi tekanan lawan-lawan politik mereka. Puncak kerja sama
terjadi pada masa Sidik Djojosukarto memimpin PNI. Saat itu disepakati bahwa PNI tidak
akan mengganggu PKI dalam rangka membangun partai.
Menurut Ganis Harsono, seorang diplomat senior Indonesia dalam otobiografinya,
Cakrawala Politik Era Sukarno, strategi ini berhasil ”menyandera” Bung Karno. Ada kesan
bahwa Bung Karno berdiri di depan PKI, sekaligus memberi citra PKI pendukung revolusi
Bung Karno dan Pancasila.


Kerja keras Aidit membuahkan hasil. Pada Pemilu 1955, PKI masuk ”empat besar” setelah
PNI, Masyumi, dan Nahdlatul Ulama. Di masa ini PKI menjadi partai komunis terbesar di
negara non-komunis dan partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah Rusia dan Cina.
PKI terus maju. Pada tahun itu juga partai ini menerbitkan dokumen perjuangan ”Metode
Kombinasi Tiga Bentuk Perjuangan”. Bentuk pertama, perjuangan gerilya di desa-desa oleh

kaum buruh dan petani. Kedua, perjuangan revolusioner oleh kaum buruh di kota-kota,
terutama kaum buruh di bidang transportasi. Ketiga, pembinaan intensif di kalangan
kekuatan bersenjata, yakni TNI.


Pada 1964, PKI membentuk Biro Khusus yang langsung dibawahi Aidit sebagai Ketua
Committee Central PKI. Tugas biro ini mematangkan situasi untuk merebut kekuasaan
dan infiltrasi ke tubuh TNI. Biro Chusus Central (demikian namanya) dipimpin Sjam
Kamaruzzaman. Tak sampai setahun, Biro Chusus berhasil menyelusup ke dalam TNI,
khususnya Angkatan Darat.


Pada Juli 1965, seiring dengan merebaknya kabar kesehatan Bung Karno memburuk, suhu
politik Tanah Air makin panas pula. Sebuah berita dari dokter RRC yang merawat Presiden
datang: Bung Karno akan lumpuh atau meninggal dunia. Di Jakarta bertiup rumor
menyengat, muncul Dewan Jenderal yang hendak menggulingkan Bung Karno.
Dalam Buku Putih G-30-S/PKI yang diterbitkan Sekretariat Negara pada 1994, disebutkan
bahwa Aidit kemudian menyatakan, gerakan merebut kekuasaan harus dimulai jika tak
ingin didahului Dewan Jenderal. Gerakan itu dipimpinnya sendiri. Ada pun Sjam ditunjuk
sebagai pemimpin pelaksana gerakan.


Saat diadili Mahkamah militer, Sjam mengaku dipanggil Aidit pada 12 Agustus 1965. Dalam
pertemuan itu, ia diberi tahu bahwa Presiden sakit dan adanya kemungkinan Dewan
Jenderal mengambil tindakan bila Bung Karno mangkat. Menurut Sjam, Aidit
memerintahkan dia meninjau ”kekuatan kita”.


Sejak 6 September 1965, Sjam lantas menggelar rapat-rapat di rumahnya dan di rumah
Kolonel A. Latief (Komandan Brigade Infanteri I Kodam Jaya). Di rapat ini hadir Letnan
Kolonel Untung (Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Resimen Cakrabirawa) dan
Mayor Udara Sudjono (Komandan Pasukan Pengawal Pangkalan Halim Perdanakusumah).
Rapat terakhir, 29 September 1965, menyepakati gerakan dimulai 30 September 1965
dengan Untung sebagai pemimpinnya.


Dalam wawancara dengan majalah D&R, 5 April 1999, A. Latief menyatakan, Gerakan 30
September dirancang untuk menggagalkan upaya kup Dewan Jenderal. ”Kami dengar ada
pasukan di luar Jakarta yang didatangkan dalam rangka defile Hari Angkatan Bersenjata
dengan senjata lengkap. Ini apa? Mau defile saja, kok, membawa peralatan berat,” kata
Latief. Karena merasa bakal terjadi sesuatu, para perwira tersebut, yang mengaku terlibat
karena loyal pada Soekarno, memilih menjemput ”anggota” Dewan Jenderal untuk
dihadapkan ke Soekarno.


Menurut Latief gerakan itu diselewengkan oleh Sjam. ”Rencananya akan dihadapkan
hidup-hidup untuk men-clear-kan masalah, apakah memang benar ada Dewan Jenderal,”
katanya. Tapi, malam hari, saat pasukan Cakrabirawa pimpinan Letnan Dul Arief, anak
buah Untung, akan berangkat menuju rumah para jenderal, tiba-tiba, ujar Latief, Sjam
datang. ”Bagaimana kalau para jenderal ini membangkang, menolak diajak menghadap
Presiden,” kata Dul Arief. Sjam menjawab, para jenderal ditangkap. Hidup atau mati.
Keesokan harinya, Dul Arief melaporkan kepada Latief dan Jenderal Soepardjo bahwa
semua telah selesai. ”Mula-mula mereka saya salami semua, tapi kemudian Dul Arief
bilang semua jenderal mati. Saya betul-betul kaget, tidak begitu rencananya,” kata Latief
yang mengaku tidak kenal dengan Aidit.


Aidit sendiri belum pernah memberi pernyataan tentang hal ini. Ia ditangkap di Desa
Sambeng, dekat Solo, Jawa Tengah, pada 22 November 1965 malam, dan esok paginya
ditembak mati. Sebelum ditangkap pasukan pimpinan Kolonel Yasir Hadibroto, Aidit
dikabarkan sempat membuat pengakuan sebanyak 50 lembar. Pengakuan itu jatuh ke
Risuke Hayashi, koresponden koran berbahasa Inggris yang terbit di Tokyo, Asahi Evening
News.


Menurut Asahi, Aidit mengaku sebagai penanggung jawab tertinggi peristiwa ”30
September”. Rencana pemberontakan itu sudah mendapat sokongan pejabat PKI lainnya
serta pengurus organisasi rakyat di bawah PKI. Alasan pemberontakan, mereka tak puas
dengan sistem yang ada. Rencana kup semula disepakati 1 Mei 1965, tetapi Lukman, Njoto,
Sakirman dan Nyono—semuanya anggota Committee Central—menentang. Alasannya, 
persiapan belum selesai. Akhirnya, setelah berdiskusi dengan Letkol Untung dan sejumlah
pengurus lain pada Juni 1965, disepakati mulai Juli 1965 pasukan Pemuda Rakyat dan
Gerwani dikumpulkan di Pangkalan Halim Perdanakusumah.


Pertengahan Agustus, sekembalinya dari perjalanan ke Aljazair dan Peking, Aidit kembali
melakukan pertemuan rahasia dengan Lukman, Njoto, Brigjen Soepardjo, dan Letkol
Untung. PKI mendapat info bahwa tentara, atas perintah Menteri Panglima Angkatan
Darat Jenderal Achmad Yani, akan memeriksa PKI karena dicurigai mempunyai senjata
secara tidak sah. ”Kami terpaksa mempercepat pelaksanaan coup d’etat,” kata Aidit.
Akhirnya, dipilih tanggal 30 September.


Dalam buku Bayang-bayang PKI yang disusun tim Institut Studi Arus Informasi (1999),
diduga Aidit tahu adanya peristiwa G-30-S karena ia membentuk dua organisasi: PKI legal
dan PKI Ilegal. Biro Chusus adalah badan PKI tidak resmi. Sjam bertugas mendekati tentara
dan melaporkan hasilnya, khusus hanya kepada Aidit. Hanya, ternyata, tak semua ”hasil”
itu dilaporkan Sjam.


Tentang besarnya peran Aidit dalam peristiwa 30 September ditampik Soebandrio.
Menurut bekas Wakil Perdana Menteri era Soekarno ini, G-30-S didalangi tentara dan PKI
terseret lewat tangan Sjam. Alasan Soebandrio, sejak isu sakitnya Bung Karno merebak,
Aidit termasuk yang tahu kabar tentang kesehatan Bung Karno itu bohong. Waktu itu,
kata Soebandrio, Aidit membawa seorang dokter Cina yang tinggal di Kebayoran Baru.
Soebandrio dan Leimena, yang juga dokter, ikut memeriksa Soekarno. Kesimpulan mereka
sama: Bung Karno cuma masuk angin.


Soebandrio dalam memoarnya, Kesaksianku Tentang G-30-S, menyesalkan pengadilan
yang tidak mengecek ulang kesaksian Sjam. Menurut Soebandrio, ada lima orang yang bisa
ditanya: Bung Karno, Aidit, dokter Cina yang ia lupa namanya tersebut, Leimena, dan
dirinya sendiri. Menurut Soebandrio, pada Agustus 1965 kelompok ”bayangan Soeharto”
(Ali Moertopo cs) sudah ingin secepatnya memukul PKI. Caranya, mereka melontarkan
provokasi-provokasi untuk mendorong PKI mendahului memukul Angkatan Darat.


Njoto membantah pernyataan Aidit. Menurut Njoto, ”Hubungan PKI dengan Gerakan
30 September dan pembunuhan Jenderal Angkatan Darat tidak ada. Saya tidak tahu apa
pun, sampai-sampai sesudah terjadinya,” katanya dalam wawancara dengan Asahi Evening
News. Keterangan Njoto sama dengan komentar Oei Hai Djoen, mantan anggota Comite
Central. ”Kami semua tidak tahu apa yang terjadi,” kata dia.
Presiden Soekarno sendiri menyatakan Gestok (Gerakan Satu Oktober)—demikian istilah
Bung Karno—terjadi karena keblingernya pemimpin PKI, lihainya kekuatan Barat atau
kekuatan Nekolim (Neo-Kolonialisme dan Imperialisme), serta adanya ”oknum yang
tidak benar”.


Misteri memang masih melingkupi peristiwa ini. ”Menurut kami, PKI memang terlibat,
tapi terlibat seperti apa?” kata Murad. Setelah puluhan tahun tragedi itu berlalu, pertanyaan
itu belum menemukan jawabannya. Setidaknya bagi Murad dan anggota keluarga Aidit
yang lain.


*** Dan Soeharto pun Tersenyum ***


“Ada di mana kamu saat pemberontakan PKI Madiun,” tanya Mayor Jenderal Soeharto,
Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat. ”Saya waktu itu baru saja
dihijrahkan dari Jawa Barat,” jawab Kolonel Yasir Hadibroto, Komandan Brigade IV Infanteri.
”Kompi saya lalu mendapat tugas menghadapi tiga batalyon komunis di daerah Wonosobo, Pak.”


”Nah, yang memberontak sekarang ini adalah anak-anak PKI Madiun dulu. Sekarang
bereskan itu semua! D.N. Aidit ada di Jawa Tengah. Bawa pasukanmu ke sana,” ujar
Soeharto memberi perintah.


Percakapan di Markas Komando Strategis Angkatan Darat, Jakarta, itu dituturkan ulang
oleh Yasir dalam Kompas edisi 5 Oktober 1980. Saat itu dia bersama pasukannya baru saja
tiba di Tanjung Priok. Brigif IV sebenarnya tengah melakukan operasi di Kisaran, Sumatera
Utara. Karena mendengar peristiwa G-30-S, mereka kembali.


Di hari pertemuan itu, 2 Oktober 1965, tentara telah mulai mengejar orang-orang Partai
Komunis Indonesia yang dituduh terlibat G-30-S. Tapi Dipa Nusantara Aidit, Ketua
Central Committee PKI, menghilang.


Yasir pun memboyong pasukannya ke Solo. Di sana dia bertemu Sri Harto, orang
kepercayaan pimpinan PKI sedang meringkuk di salah satu rumah tahanan. Orang itu dia
lepaskan. Hanya dalam beberapa hari Sri Harto melapor: Aidit berada di Kleco dan akan
segera pindah ke sebuah rumah di Desa Sambeng, belakang Stasiun Balapan, pada 22
November.


Rencana pun disusun. Dan benar, sekitar pukul sebelas siang, Aidit muncul di rumah itu,
menumpang vespa Sri Harto. Sekitar pukul sembilan malam, Letnan Ning Prayitno
memimpin pasukan Brifif IV menggerebek rumah milik bekas pegawai PJKA itu. Yasir
mengawasinya dari jauh.


Alwi Shahab, wartawan gaek yang kala itu sedang meliput di Solo, menulis di harian
Republika, waktu digerebek Aidit bersembunyi di dalam lemari. Prayitno sendiri yang
menemukannya.


”Mau apa kamu?” Aidit membentak anak buah Yasir itu saat keluar dari lemari. Prayitno
keder pada mulanya, tapi segera menguasai keadaan. Setengah membujuk dia membawa
Aidit ke markas mereka di Loji Gandrung.


Malam itu juga Yasir menginterogasi Aidit. Kabarnya, sang Ketua membuat pengakuan
tertulis setebal 50 halaman. Isinya, antara lain, hanya dia yang bertanggung jawab atas
peristiwa G-30-S. Sayang, menurut Yasir, Pangdam Diponegoro kemudian membakar
dokumen itu. Entah bagaimana, koresponden Asahi Evening News di Jakarta, Risuke
Hayasi, berhasil mendapatkan bocoran pengakuan Aidit untuk korannya.
Menjelang dini hari Yasir kebingungan, selanjutnya harus bagaimana. Aidit berkali-kali
minta bertemu dengan Presiden Soekarno. Yasir tak mau. ”Jika diserahkan kepada Bung
Karno, pasti akan memutarbalikkan fakta sehingga persoalannya akan jadi lain,” kata Yasir
seperti dikutip Abdul Gafur dalam bukunya, Siti Hartinah Soeharto: Ibu Utama Indonesia.
Akhirnya, pada pagi buta keesokan harinya, Yasir membawa Aidit meninggalkan Solo
menuju ke arah Barat. Mereka menggunakan tiga buah jip. Aidit yang diborgol berada di
jip terakhir bersama Yasir. Saat terang tanah iring-iringan itu tiba di Boyolali.
Tanpa sepengetahuan dua jip pertama, Yasir membelok masuk ke Markas Batalyon 444.
Tekadnya bulat. ”Ada sumur?” tanyanya kepada Mayor Trisno, komandan batalyon. Trisno
menunjuk sebuah sumur tua di belakang rumahnya.


Ke sana Yasir membawa tahanannya. Di tepi sumur, dia mempersilakan Aidit
mengucapkan pesan terakhir, tapi Aidit malah berapi-api pidato. Ini membuat Yasir dan
anak buah marah. Maka: dor! Dengan dada berlubang tubuh gempal Menteri Koordinasi
sekaligus Wakil Ketua MPRS itu terjungkal masuk sumur.


24 November 1965, pukul 3 sore. Yasir bertemu Soeharto di Gedung Agung, Yogyakarta.
Setelah melaporkan pekerjaannya, termasuk keputusannya membunuh Aidit, sang kolonel
memberanikan diri bertanya: ”Apakah yang Bapak maksudkan dengan bereskan itu seperti
sekarang ini, Pak?” Soeharto tersenyum.


*** Kuburan Aidit : Rahasia Sumur Mati ***


Aidit konon dikuburkan di Boyolali, Jawa Tengah. Anaknya pernah berziarah ke sana.
Hamparan tanah berkerikil itu ditumbuhi labu siam dan ubi jalar. Pohon mangga dan
jambu biji menaunginya di kanan-kiri. Hanya itu. Tak ada satu pun penanda yang
menunjukkan bekas sumur di pekarangan belakang gedung tua itu. Dulu, bangunan ini
adalah bagian dari kompleks markas Batalion 444 TNI Angkatan Darat di Boyolali—
sebuah kota kabupaten sekitar 25 kilometer di sebelah barat Solo, Jawa Tengah.
Meski tak berbekas, banyak orang meyakini, di sepetak halaman itu pernah ada sebuah
sumur tua tempat jenazah Dipa Nusantara Aidit, Ketua Umum Comite Central PKI,
dikuburkan pada 23 November 1965. Salah satunya Mustasyar Nahdlatul Ulama Boyolali,
Tamam Saemuri, 71 tahun.


Pada suatu malam di tahun berdarah 1965, dia bertemu Kolonel Yasir Hadibroto dalam
sebuah rapat organisasi massa di pendapa kabupaten. Saat itu Tamam muda adalah aktivis
Gerakan Pemuda Ansor, organisasi yang banyak terlibat dalam ”operasi pembersihan”.
Kepada Tempo dua pekan lalu, dia bercerita bahwa dalam pertemuan itu Yasir
mengumumkan pasukannya telah menembak mati Aidit beberapa hari sebelumnya.
”Eksekusi-nya subuh-subuh,” Tamam menirukan Yasir. Se-akan meneguhkan ucapan
kepada lawan bicaranya, Yasir menunjukkan jam tangan yang dia kenakan. ”Ini arloji
Aidit,” katanya. Sewaktu didesak menceritakan bagaimana pucuk pimpinan PKI itu tewas,
Yasir berujar, ”Dia diberondong senapan AK sampai habis 1 magasin.”
Sejumlah sumber lain membenarkan cerita Tamam. Setelah puluhan tahun, cerita itu
sampai juga ke telinga putra Aidit, Ilham. Empat tahun lalu dia memutuskan datang
sendiri ke tempat yang diduga sebagai pusara ayahnya. ”Sejak lulus kuliah sampai 1998, saya
selalu mencari kuburan ayah dengan sembunyi-sembunyi,” katanya tatkala dihubungi
pekan lalu. Saat itu dia hanya berbekal sepotong informasi dari koran bahwa Aidit tewas
ditembak di Boyolali. Berbilang kawan dekat ayahnya dia tanyai, tapi tak ada satu pun yang
tahu nasib Aidit selepas meninggalkan Ibu Kota.


Menemukan makam Aidit bukan perkara mudah, bahkan bagi anaknya. Ada upaya
sistematis untuk membuat peristirahatan terakhir Aidit dilupakan orang. Sumur tua itu,
misalnya, sampai dua kali diuruk batu setelah November 1965. Kompleks gedung markas
Batalion 444 juga dibongkar dan kini hanya menyisakan sebuah gedung tua. Gedung itu
sekarang digunakan sebagai mes pegawai Komando Distrik Militer (Kodim) Boyolali.
Batalion 444 dikenal sebagai kesatuan tentara pro-komunis. Salah satu komandan
kompinya adalah Letnan Kolonel Untung Syamsuri, yang kemudian memimpin operasi
penculikan sejumlah jenderal pada malam 30 September. Tahun-tahun menjelang 1965,
Boyolali juga dikenal sebagai basis PKI Jawa Tengah. Dalam pemilu 1955 dan pemilihan
kepala daerah dua tahun sesudahnya, PKI meraih kemenangan besar di sana.
Pencarian Ilham baru berbuah ketika sebuah lembaga swadaya masyarakat lokal di Boyolali
menghubunginya dan menceritakan temuan mereka. “Mereka mengetahui lokasi ini dari
sumber-sumber kredibel yang terlibat langsung dalam pembunuhan anggota PKI saat itu,”
kata Ilham.


Tempo mendatangi lokasi itu dua pekan lalu. Dan seorang penghuni di mes Kodim
membenarkan pekarangan belakang gedung itu disebut-sebut sebagai lokasi kuburan
Aidit.


Dia menambahkan, telah lama warga setempat berusaha menghindari bekas sumur tua itu.
”Pernah ada orang yang mau membuat bak sampah tepat di atasnya, tapi cangkulnya
membentur batu keras,” katanya. Saat bergeser beberapa meter ke samping, justru muncul
pecahan tulang tempurung tengkorak. Lubang itu buru-buru ditutup lagi. Si penghuni ini
menolak disebut namanya karena khawatir keselamatannya terancam.
Tak sampai 100 meter dari sana, ada sebuah lokasi lain yang juga disebut-sebut
berhubungan dengan Aidit. Di sanalah, konon, Wakil Ketua Majelis MPR Sementara itu
ditembak mati. Pekarangan tersebut bagian dari satu rumah berarsitektur tua yang
sekarang menjadi gedung Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah.


”Jadi, setelah ditembak di sana, baru jenazahnya dimasukkan ke sumur di sebelahnya,” kata
Ilham kepada Tempo. Pada 1965, rumah itu digunakan sebagai Sekolah Pendidikan Guru.
Lokasinya tak jauh dari Pasar Boyolali, yang berhadap-hadapan dengan markas polisi
militer Kodim Boyolali dan gedung yang dulu digunakan sebagai Sekretariat PKI.
Mbah Jungkung, seorang pensiunan pegawai negeri setempat yang banyak mengetahui
ihwal kejadian pada masa itu, membenarkan kisah Ilham. Bahkan, menurut dia, gedung
sekolah itu dahulu dijadikan semacam kamp tahanan. Para anggota dan simpatisan PKI
dikumpulkan di situ sebelum dieksekusi.


Ketika akhirnya berdiri di samping pusara ayahnya pada 2003 lalu, Ilham mengaku tak
kuasa menahan getaran hatinya. ”Naluri saya mengatakan memang di sinilah tempatnya,”
katanya dengan suara tercekat. Putra Aidit itu juga mengaku memendam keinginan untuk
memindahkan jenazah ayahnya ke tempat yang layak. ”Tapi mungkin belum bisa
sekarang,” katanya pelan. ”Kami harus bersabar.”


Keluarga Besar Aidit ; Sesudah Malam Horor itu


Dari sebuah keluarga yang sentosa, keluarga D.N. Aidit luluh-lantak setelah horor 30
September 1965. Anak dan istri pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) itu cerai-berai.
Ada yang masuk penjara, ada yang dibuang ke Pulau Buru. Dua anak gadisnya menjadi
eksil dan berpindah dari satu negara ke negara lain.


Abdullah Aidit (Ayah D.N. Aidit); Jenazahnya Membusuk Tiga Hari


Malam 30 September 1965, Abdullah menginap di rumah D.N. Aidit di Jalan Pegangsaan
Barat 4, Jakarta Pusat. Dia melihat anak sulungnya, D.N. Aidit, dibawa pergi tiga orang
tentara bersama pengawal pribadi bernama Kusno.


Pada 1965 itu, Abdullah sudah pindah dari Belitung ke Jakarta karena menjadi Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Banyak orang mengira dia wakil dari Masyumi
karena saat itu ada dua anggota Dewan dengan nama yang mirip. Yang satu dari Masyumi
bernama Aidid, yang lain Abdullah Aidit yang ke Senayan karena kiprahnya dalam
organisasi Nurul Islam.


D.N. Aidit tak kunjung pulang, demikian pula dengan Soetanti, istrinya, yang pergi tanpa
pamit. Abdullah lalu mengasuh tiga cucunya: Iwan, Irfan, dan Ilham. Beruntung, di rumah
itu masih ada dua pembantu dan keluarga dari Belitung.


Si kakek melihat massa yang beringas datang ke rumah. ”Mereka berteriak-teriak dan
melempar rumah kami,” kata Ilham Aidit kepada Tempo. Kejadian itu berlangsung pada
hari ditemukannya jenazah lima jenderal di Lubang Buaya. Abdullah kerap membesarkan
hati cucu-cucunya, ”Sebentar lagi ayah dan ibu kalian datang menjemput.” Tiga anak laki
Aidit itu kemudian diangkut seorang paman ke Kebayoran, Jakarta Selatan.
Menurut Murad Aidit, putra bungsu Abdullah Aidit, ayahnya kemudian terbang ke
Belitung atas bantuan Wakil Perdana Menteri Chaerul Saleh. Tiga tahun menetap di
Belitung, Abdullah jatuh sakit. Dia akhirnya meninggal ketika rumah itu kosong karena
Marisah, istri kedua Abdullah, tengah menginap di rumah saudaranya. Tetangga sekitar
jarang ke rumah itu, takut terkena getah G30S. Karena tak ada yang mengurus, jenazah
Abdullah membusuk tiga hari.


Basri Aidit (Adik D.N. Aidit); Jadi Tukang Kebun di Bogor


Nasib Basri memang paling apes. Peristiwa 30 September 1965 meletus cuma beberapa hari
setelah dia pindah kerja di kantor Comite Central PKI di Kramat, Jakarta Pusat.
Sebelumnya dia adalah pegawai rendahan di kantor Dinas Pekerjaan Umum Tanah Abang.
Bekerja di kantor PKI, Basri gampang dikenali. Sehari setelah pembunuhan para jenderal, ia
dibekuk bersama sejumlah orang PKI lainnya. Ia ditahan di penjara Kramat, kemudian pada
1969 dibuang ke Pulau Buru.


Selama sang ayah di pembuangan, anak-istrinya menjual habis barang di rumah untuk
bertahan hidup. Setelah semuanya ludes, hidup keluarga ini amat bergantung pada
bantuan saudara, kenalan, dan teman.


Basri keluar dari Buru pada 1980. Atas bantuan keluarganya di Belitung, dia bisa membeli
sebuah rumah di Bogor, Jawa Barat. Di sana dia berkebun sambil mengajar bahasa Inggris
untuk anak-anak tetangga. Ketika meninggal dunia, dia cuma mewariskan uang Rp 2,5
juta kepada anak cucunya.


Murad Aidit (Adik D.N. Aidit); Diisolasi di Unit 15


Seperti saudara-saudaranya yang lain, Murad datang ke Jakarta setelah tamat sekolah
menengah zaman Belanda. Karena ikut D.N. Aidit sejak remaja, Murad banyak mengenal
teman Aidit yang aktif di Menteng 31, asrama mahasiswa zaman itu.
Lulusan fakultas ekonomi dari Universitas Lumumba Moskow ini berkawan dengan
banyak sastrawan. Penyair Chairil Anwar adalah sohib kentalnya. Akibat kurang gizi dan
makan tak teratur selama ikut Tentara Pelajar, dia sempat menderita TBC dan diopname
enam tahun.


Pada saat peristiwa 30 September 1965, Murad menginap di rumah D.N. Aidit. Sebelum
pergi dengan tiga orang tentara yang menjemputnya, Aidit cuma memberikan pesan
singkat kepada Murad, ”Matikan lampu depan.”


Esok harinya, ketika kembali ke rumahnya di Depok, Murad baru tahu bahwa sejumlah
jenderal dibunuh dan PKI dituduh terlibat. Tapi dia tidak berusaha sembunyi.
Di tengah kegentingan situasi Jakarta saat itu, dia sempat datang ke kantor PKI. Markas
yang biasanya meriah itu sunyi senyap. Murad ditangkap beberapa hari kemudian.
Sebagaimana anggota PKI lainnya, Murad dipenjara berpindah-pindah. Semula ditahan di
Bogor, setelah itu di Bandung, lalu ke rumah tahanan khusus di Salemba, Jakarta. Pada
1971 Murad dibuang ke Pulau Buru.


Di pembuangan itu dia diisolasi di Unit 15. Ini unit khusus untuk menahan petinggi PKI
dan mahasiswa yang pernah dikirim Soekarno belajar ke luar negeri. Murad bebas pada
1979. Istrinya, Noer Cahya, meninggal tak lama setelah bebas dari penjara wanita
Pelantungan, Kendal, Jawa Tengah. Murad kemudian menikah lagi dengan Lilik Hartini.
Kini keduanya tinggal di Depok dan hidup dari pekerjaan menerjemahkan buku.
Sobron Aidit (adik tiri Aidit); Hingga Wafat di Paris.


Sejak remaja Sobron suka sastra. Kegemaran itu kian menyala setelah dia datang ke Jakarta
pada 1948 dan bertemu dengan Chairil Anwar. Kebetulan Chairil adalah teman Murad dan
kerap bermalam di kos Murad di Gondangdia, Jakarta Pusat.


Dari Chairil, juga sastrawan lain seperti Rivai Apin, Asrul Sani, dan H.B. Jassin, Sobron
menimba banyak ilmu. Dibantu Chairil, puisi Sobron ketika itu muncul di Mimbar
Indonesia. Saat itu usia Sobron baru 13 tahun. Malam setelah sajak itu dimuat, Chairil
mentraktirnya makan-makan. Sobron menyantap soto, empal, nasi campur, dan ruparupa
lauk. Sesudah makan, Sobron baru tahu bahwa uang makan adalah honor puisinya di
Mimbar Indonesia.


Ketika peristiwa G30S meletus, Sobron berada di Beijing untuk mengajar bahasa Indonesia.
Tapi kontrak tak diperpanjang akibat peristiwa itu. Dia kemudian menjadi petani di negeri
tirai bambu itu dan menikahi gadis setempat.


Sempat menjadi penyiar dan redaktur Radio Beijing, pada 1981 ia pindah ke Paris. Bersama
eksil lainnya, J.J. Kusni dan Umar Said, Sobron mendirikan Restoran Indonesia di Rue de
Vaugirard, di kawasan Luxembourg, Paris. Sobron meninggal pada Februari 2007 karena
penyumbatan darah di otak. Buku terakhirnya, Razia Agustus, terbit pada November lalu.
Asahan Aidit (adik tiri Aidit); Jatuh Cinta pada Gadis Vietnam
Saat peristiwa 30 September meletus, Asahan sedang di Moskow. Di ibu negeri beruang
merah itu, Asahan sedang memperdalam studi filologi. Mendengar sanak familinya di
Indonesia diuber-uber, Asahan enggan pulang.


Dia kemudian pergi ke Cina. Dari sana Asahan pindah ke Vietnam dan meraih gelar doktor
dalam bidang bahasa di sana. Dia menikahi gadis Vietnam.


Pada 1984 dia mendapat suaka politik di Belanda dan tinggal di sana hingga sekarang. Anak
tunggalnya meninggal secara misterius dan dikuburkan di Inggris beberapa tahun lalu.
Asahan termasuk dekat dengan Dipa Nusantara, abangnya. Ia, misalnya, satu-satunya adik
Aidit yang pernah naik mobil dinas menteri koordinator bernomor B 13. Kalau Aidit harus
bekerja hingga larut, Asahan yang ”disewa” untuk memutar musik-musik klasik. Aidit
biasanya minta diputarkan Symphony No. 3 Beethoven.


Dokter Soetanti (Istri Aidit) ; Menyamar Jadi Istri Orang


Malam 30 September 1965, Soetanti bertengkar keras dengan D.N. Aidit. Tanti ingin
suaminya tetap tinggal di rumah dan tidak mengikuti kemauan para penjemputnya.Tetapi
Aidit memilih pergi.


Tiga hari setelah malam kelabu itu, Tanti menghilang dari rumah meninggalkan tiga anak
lakinya yang masih kecil. Belakangan baru terungkap, Tanti menyusul suaminya ke
Boyolali dan bertemu Bupati Boyolali yang juga tokoh PKI. Tak lama di Boyolali, dia
kembali ke Jakarta dengan cara menyamar. Tanti dan Pak Bupati itu pura-pura menjadi
suami-istri. Agar aksi penyamaran ini sukses, ”Dua orang bocah kemudian diambil sebagai
anak angkat,” kata Ilham aidit.


”Suami-istri” ini kemudian mengontrak sebuah rumah di Cirendeu, Jakarta. Sandiwara itu
sukses berbulan-bulan, sampai akhirnya para tetangga curiga karena Pak Bupati ini selalu
bilang ”injih-injih” kepada istrinya. Sikap dua anak angkat juga mencurigakan. ”Mereka
tidak pernah manja kepada dua orang tuanya,” kata Ilham. Dari situ, keduanya ditangkap.
Soetanti bukan wanita biasa. Kakeknya, Koesoemodikdo, adalah Bupati Tuban yang
pertama. Menolak untuk meneruskan jabatan sang bapak, ayah Tanti, Moedigdo, memilih
merantau ke Medan. Ibu Tanti, Siti Aminah, adalah keturunan ningrat Minang dan teman
sekolah Sutan Syahrir.


Tanti masuk sekolah kedokteran di Semarang atas biaya R.M Susalit, saudara sepupu
ayahnya, yang juga putra tunggal R.A. Kartini. Setelah menikah dengan Aidit, Tanti
memperdalam ilmu kedokterannya di Korea dan menjadi dokter ahli akupunktur yang
pertama di Indonesia.


Setelah ditangkap, Tanti berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya hingga 1980. Di
antaranya tahanan Kodim 66 dan Penjara Bukit Duri. Dalam sel ia kerap membuat baju
untuk anaknya meski salah ukuran: dia selalu menduga anak-anaknya masih kecil. ”Begitu
dipakai, bajunya kekecilan,” kata Ilham.


Sekitar 16 tahun Soetanti tidak berjumpa anaknya. Soalnya, paman yang memelihara
bocah-bocah itu tak berani membawa mereka menjenguk ibunya di Bukit Duri. Lepas dari
penjara Tanti masih sempat berpraktek sebagai dokter. Setelah sembilan tahun sakitsakitan,
Tanti wafat pada 1991.


Ibarruri Putri Alam dan Ilya Aidit (dua putri D.N. Aidit); Memilih Berlabuh di Paris
Keduanya terakhir bertemu sang ayah ketika berlibur ke Jakarta pada Mei-September 1965.
Ada yang aneh dari liburan kali ini. Sang ayah, kata Ibarruri, kerap menatap anak
sulungnya itu secara sembunyi-sembunyi. ”Seperti ada sesuatu dalam tatapannya itu,” kata
Iba.


Bersama ibunya, Iba sudah menginjakan kaki di Moskow, Rusia, pada 1958. Ketika itu
masih remaja. Setahun kemudian Ilya yang baru berumur delapan tahun menyusul.

Setelah peristiwa G30S, lama kedua remaja itu tak tahu keadaan keluarga. Di koran beredar
informasi rupa-rupa: ada yang menulis Aidit telah mati. Ada yang bilang ayah kedua
remaja melarikan diri ke Hong Kong dengan kapal selam.


Belakangan, seorang utusan dari Partai Komunis Soviet menemui mereka dan
mengabarkan bahwa sang ayah telah ditembak. Koran-koran mengabarkan Aidit ditembak
mati di Boyolali, 23 November 1965.


Dua gadis itu kemudian berkelana dari suatu negara ke negara lain. Pada 17 Februari 1970
mereka pindah ke Beijing, Cina. Dari situ mereka ke Burma, sebelum akhirnya menetap di
Paris hingga sekarang.


Iwan Aidit dan si Kembar Ilham dan Irfan ; Hampir Ditembak, Disapa Sarwo Edhie


Setelah sang ayah pergi pada malam 30 September 1965, dan sang ibu menghilang
beberapa hari kemudian, Iwan Ilham dan Irfan dijaga Abdullah Aidit, kakeknya. Saat itu
mereka bersekolah di SD Cikini. Ilham dan Irfan kelas satu, sedangkan Iwan kelas enam.
Tiga anak ini kemudian dijemput Om Bayi, adik lelaki Soetanti yang bekerja sebagai
direktur perusahaan pelayaran Djakarta Lloyd. Dari rumah pamannya di Kebayoran itu
ketiga anak itu dipindahkan ke Bandung dan menetap di rumah Paul Mulyana, saudara lain
ibu mereka.


Setelah Paul pindah ke Belanda untuk meneruskan kuliah, tiga bocah ini pindah ke rumah
saudara Paul lainnya bernama Yohanes Mulyana. Sepuluh tahun mereka tinggal bersama
keluarga itu. Mereka sekolah di SMP Aloysius, Bandung.


Ihlam selalu teringat akan pengalaman menggetarkan ini. Ketika usianya 9 tahun, empat
orang petugas datang ke rumah Yohanes dan bertanya betulkah dia memelihara anak-anak
Aidit. Yohanes mengangguk.


Tuan rumah ini mengajak petugas itu ke halaman di mana Ilham dan Irfan tengah main
kelereng. Mengetahui dua anak itu masih kecil-kecil, dua petugas itu menyarungkan
pistol dan berlalu. ”Aku betul-betul gemetar,” kenang Ilham. ”Kami selamat karena umur.”
Beruntung, Iwan yang sudah agak besar tidak di tempat.


Ketika sekolah di SMA Kanisius, Ilham kerap berkelahi karena sering diejek sebagai anak
D.N. Aidit. Seorang rohaniwan Katolik, M.A. Brouwer, yang mengajar di sekolah,
menasehatinya agar tabah. ”Yang penting sekolah setinggi mungkin. Itu membuat
kehidupan lebih baik,” kata Brouwer sebagaimana dikisahkan Ilham. Dari Brouwer dia tahu
bahwa ada versi lain soal peristiwa 30 September itu. Irfan, sebaliknya, melewati hari-hari
itu dalam diam.


Ilham kemudian kuliah di Jurusan Arsitek Universitas Parahyangan, Bandung, Irfan di
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan Iwan di Institut Teknologi Bandung.
Ilham gemar mendaki gunung dan menjadi anggota kelompok pecinta alam Wanadri. Di
situ dia mengenal Letnan Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, komandan pasukan
khusus yang membasmi PKI pasca-G30S. Sarwo Edhie adalah anggota kehormatan
Wanadri. Menurut Ilham, ia bertemu pertama kali dengan Sarwo Edhie pada 1981, sewaktu
dia dilantik menjadi anggota Wanadri. ”Aku didekap sama dia. Tidak lama, hanya belasan
detik,” kata Ilham.


Pertemuan kedua berlangsung pada 1983 dalam sebuah acara pelantikan anggota baru
Wanadri di Kawah Upas, Tangkuban Perahu. Saat itu Ilham menjadi komandan operasi
pendidikan dasar Wanadri. Sekitar pukul 6.30 pagi, Sarwo Edhie mendatanginya. ”Kamu
sekarang jadi apa nih?” tanya Sarwo. Ilham memberitahukan bahwa dia sudah jadi kepala
operasi. ”Bagus,” sahut Sarwo Edhie.


Sarwo Edhie kemudian meminta waktu berbicara berdua. Mereka menyingkir ke tebing
Kawah Upas. Sarwo Edhie bertanya tentang kabar dan kuliah Ilham. ”Aku jawab lancar,
meski sebenarnya tidak begitu lancar,” tutur Ilham sembari tertawa.
Sarwo Edhie lalu berkisah tentang peristiwa 30 September 1965 itu. ”Kamu bisa menerima
ini kan?” kata Sarwo. Sarwo, kata Ilham, tidak meminta maaf. Tapi Ilham lega. ”Ini bentuk
rekonsiliasi yang lengkap,” katanya.


Lulus jadi arsitektur pada 1987, persis ketika pemerintah gencar melakukan screening
terhadap anak-anak mantan anggota PKI. Sang kakak, Iwan, dikeluarkan dari sebuah
perusahaan ternama setelah diketahui anak PKI. Adapun Ilham selalu pindah kerja. ”Begitu
mereka tahu aku anak Aidit, mereka membuat aku tidak betah supaya keluar.” Sejak 1992,
Ilham lalu membuka usaha sendiri di bidang arsitektur.


Sejak dua tahun lalu Ilham menetap di Bandung setelah tinggal di Bali selama 10 tahun. Dia
juga kerap bolak-balik ke Aceh, ikut serta dalam proses rekonstruksi Aceh pasca-tsunami.
Irfan kini menetap di Cimahi, Jawa Barat, sedangkan Iwan menjadi warga negara Kanada
dan bekerja di sebuah perusahaan pertambangan. Pada 1980 ketiga anak laki-laki itu
bertemu sang ibunda dan mendapat kontak dengan Iba dan Ilya di Paris.


*** Aidit dan Serangan di Pagi Buta ***


Jumat, dini hari, 30 September 1965. Rangkaian adegan itu masih bergerak perlahan di
kepala mereka. Itulah terakhir kali mereka melihat ayahanda masing-masing:
meninggalkan rumah, bersama pasukan berseragam Cakrabirawa.


Mereka, anak-anak Pahlawan Revolusi, masih remaja. Tapi, empat puluh dua tahun
berselang, trauma belum juga pergi. Mereka merasa D.N. Aidit bertanggung jawab atas
kejadian berdarah di malam mengerikan itu, tapi mereka sepakat tidak membalas dendam.
Sebaliknya, mereka membentuk Forum Silaturahmi Anak Bangsa, guna mencari
kebenaran di balik peristiwa itu. Berikut ini tanggapan anak-anak Pahlawan Revolusi
tentang kejadian itu, juga tentang D.N. Aidit.


Amelia Achmad Yani


Amelia, putri ketiga Letnan Jenderal Achmad Yani, masih berusia 16 tahun. Ia
menyaksikan sejumlah tentara Cakrabirawa bersenjata lengkap menghabisi nyawa ayahnya
pada pagi buta di rumah mereka di Jalan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat.
Amelia, kini 58 tahun, semula tidak tahu persis siapa dalang pembunuhan ayahnya.
Belakangan, dia tahu pelakunya adalah G-30-S/PKI pimpinan Dipa Nusantara Aidit. ”Aidit
ingin merebut kekuasaan dan menganggap Yani dan jenderal lainnya sebagai penghalang,”
kata Amelia, yang sekarang jadi pengusaha di Yogyakarta.


Perseteruan dengan Aidit, kata Amelia, bermula dari ketidaksetujuan Yani dengan
keinginan PKI mengganti ideologi Pancasila menjadi komunis. Hal ini telah disampaikan
beberapa kali oleh Yani kepada Presiden Soekarno. Namun kedekatan Aidit dengan
Soekarno menyebabkan PKI tidak bisa disingkirkan begitu saja.


”Mereka melihat Angkatan Darat sebagai penghalang mereka,” ujar Amelia. Sehingga
diam-diam mereka melancarkan serangan propaganda untuk menghabisi TNI Angkatan
Darat, terutama Yani dan jenderal-jenderal lain yang pernah bersekolah di Amerika.


Dalam pidato di depan taruna TNI Angkatan Laut pada 1964, Aidit menyebut jenderal
lulusan Amerika sebagai jenderal Pentagon berkulit sawo matang yang berbahaya. Mereka
diisukan akan berkhianat.


Tidak hanya itu, kata Amelia, yang sering mendengar percakapan politik antarjenderal di
rumahnya, PKI juga menyebarkan isu Angkatan Darat telah membentuk Dewan Jenderal
untuk melancarkan usaha kudetanya terhadap Presiden. Puncaknya, PKI membunuh
beberapa prajurit TNI di sejumlah daerah, di antaranya Pembantu Letnan Satu Sudjono di
Bandar Betsi, Sumatera Utara.


Amelia mengaku tidak banyak tahu soal Aidit. Ia hanya melihat Aidit sebagai ahli
propaganda ulung yang sangat berambisi untuk berkuasa. ”Dia sudah hitung-hitungan
siapa yang berkuasa jika Presiden Soekarno meninggal. Yang jelas, bapak saya tidak boleh
hidup karena akan menghalanginya,” ujar Amelia.


”Kekuatan PKI saat itu luar biasa. Tukang jahit kami saja ikut baris-berbaris di siang bolong
mengikuti rapat raksasa PKI,” ujar Amelia. Sayang, kata Amelia, PKI tidak cerdik dalam
strategi. ”Jadinya pontang-panting setelah pembunuhan itu,” ujarnya. Dengan kekalahan
dalam waktu singkat itu, Amelia menilai PKI sebenarnya tidak memiliki kekuatan apa-apa.
”Mereka hanya berlindung (di belakang Soekarno—Red.) dan menggunakan Soekarno,”
katanya.


Salomo Pandjaitan


”Suara tembakannya saja masih terngiang sampai sekarang,” kata Salomo Pandjaitan, kini
55 tahun, putra ketiga Brigadir Jenderal Donald Ishak Pandjaitan.
Pembunuhan D.I. Pandjaitan memang paling tragis. Waktu itu Salomo masih 13 tahun.
Pasukan Cakrabirawa, yang datang di pagi buta ke rumah mereka, melesakkan peluru ke
kepala Pandjaitan saat jenderal bintang satu itu berdoa. Pandjaitan baru saja melipat
tangan ketika senapan meletus. ”Bagaimana saya tidak benci dia? Di depan kepala saya,
otak ayah saya berhamburan, dihantam peluru panas pasukan Cakrabirawa,” kata Salomo.
”Ada 360 peluru ditemukan di rumah kami, yang luasnya 700 meter persegi.”


Bagi pensiunan karyawan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ini, ”Aidit adalah
pengkhianat, yang ingin membelokkan ideologi negara. Salah satunya dengan mendekati
dan mempengaruhi Presiden Soekarno.” Aidit, di mata Salomo, adalah dalang Gerakan 30
September.


Semua berawal dari perseteruan TNI Angkatan Darat dengan PKI. Tidak mudah
menyingkirkan kekuatan politik Angkatan Darat saat itu. Apalagi Achmad Yani,
pemimpin Angkatan Darat, kesayangan Soekarno. Karena itu, cara terbaik adalah
membunuh mereka. ”Satu-satunya cara, ya, dengan kekerasan,” ujar Salomo.
D.N. Aidit akhirnya berhasil menjalankan rencananya, ”Karena waktu itu PKI merupakan
partai paling kuat dengan anggota yang sangat militan,” kata Salomo. Dalam ingatan
Salomo, Aidit selalu mencari pengaruh, pandai mengobarkan semangat anggota-anggotanya.
Ia juga berpidato seperti Soekarno, selalu berapi-api. PKI juga kuat karena
didukung Soekarno dan negara luar seperti Cina dan Rusia.
”Waktu itu, saya belum merasakan pengaruh PKI pada diri saya. Justru pembunuhan
terhadap para jenderal yang memacu saya jadi antikomunis.” katanya. Meski begitu,
Salomo membatasi kebenciannya hanya kepada Aidit, ”Bukan kepada anak atau
keluarganya.”


Rianto Nurhadi Harjono


”Saya trauma bahkan masuk rumah sakit selama empat hari setelah peristiwa itu,” kenang
Rianto Nurhadi, yang kini pengusaha.


Saat itu Rianto Nurhadi, dipanggil Riri, baru sembilan tahun. Ia terbangun ketika
mendengar tembakan menghantam kamar ayahnya. Ia sempat mendatangi ayahnya, tapi
sang ayah memberi kode agar ia berlindung bersama ibu dan saudaranya di kamar lain.
Selang beberapa menit, ayahnya telah terkapar bersimbah darah dan diseret ke atas truk.
Riri putra ketiga Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Harjono. Walau orang tuanya menjadi
korban, Riri tidak bisa memastikan apakah PKI satu-satunya dalang pembunuhan itu.
Namun Riri mengakui peran politik PKI pada 1965 cukup besar, sehingga kelompok lain,
di antaranya TNI Angkatan Darat, menjadi khawatir. Apalagi saat itu PKI hendak
memaksakan sistem komunis di Indonesia. Inilah yang kemudian memicu perseteruan
antara PKI dan TNI Angkatan Darat.


Namun PKI di bawah pimpinan Aidit saat itu sangat kuat. Ia dekat dengan Presiden
Soekarno, sehingga tidak mudah dilumpuhkan. ”Aidit sosok yang berambisi besar untuk
berkuasa,” ujar Riri. Karena itu, Aidit berhasil menjalankan rencananya, membunuh para
jenderal, agar bisa berkuasa.


Sampai saat ini, ”Kebencian kepada Aidit dan PKI tetap ada,” kata Riri. Namun ia tidak
mau memendam kebencian itu, apalagi menyalahkan anak-anak dan keluarga Aidit.
”Kami tidak mau benci dan dendam itu berlarut-larut. Kami keluarga Pahlawan Revolusi
dan keluarga PKI sama-sama jadi korban,” ujarnya.


Agus Widjojo


Agus Widjojo sedang lelap tidur saat peristiwa berdarah itu terjadi. Ia terbangun setelah
mendengar derap sepatu lars dan kegaduhan di rumahnya. Tidak ada suara tembakan, tapi
beberapa menit kemudian ia melihat ayahnya dibawa segerombolan orang berbaret merah.
Itulah terakhir kali ia melihat sang ayah.


Di kemudian hari, ia baru tahu bahwa ayahnya diculik dan dibunuh PKI. Agus putra
pertama Brigadir Jenderal Soetojo Siswomihardjo. ”Saat itu saya tidak tahu jelas
perseteruan politik antara TNI Angkatan Darat dan PKI dan kenapa ayah saya dibunuh,”
ujar Agus. Lama ia baru menyadari bahwa ayahnya menjadi salah satu sasaran PKI karena
dianggap sebagai batu penghalang PKI untuk berkuasa.


”Saya tahu Aidit dalang pembunuhan itu setelah mencari tahu,” kata pensiunan jenderal
ini. Selama ini, ia memandang Aidit sebagai orang yang yakin betul pada ideologi yang
diperjuangkannya.


Menurut Agus, kini 60 tahun, perseteruan antara Angkatan Darat dan PKI bermula dari
tersiarnya kabar bahwa Presiden Soekarno sakit keras. ”PKI berambisi ingin berkuasa,
namun dihalangi Angkatan Darat,” kata Agus.


Walau merasa kehilangan setelah peristiwa itu, Agus tidak dendam kepada PKI, apalagi
kepada anak-anak D.N. Aidit. ”Kita kan harus tetap berjalan ke masa depan, tidak hanya
terpuruk dengan masa lalu,” katanya. Untuk menghindari rasa dendam antara keluarga
Pahlawan Revolusi dan keluarga Aidit, ia bahkan memprakarsai pembentukan Forum
Silaturahmi Anak Bangsa. ”Kami mencoba mengambil pelajaran dan berusaha
mengungkap kebenaran, apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya—walaupun, kata Agus, hal
itu tidak mudah dilakukan.


Agus menilai pembunuhan terhadap ayahnya lebih karena alasan politik, sehingga dia
tidak merasa trauma.


Ratna Purwati Soeprapto


Ratna Purwati telah berumur 18 tahun ketika peristiwa yang merenggut nyawa ayahnya,
Mayor Jenderal R. Soeprapto, terjadi. Saat penculikan itu, rumahnya tidak dijaga oleh
seorang prajurit pun, sehingga pasukan Cakrabirawa bisa leluasa membawa ayahnya. ”Baru
setelah Pak Umar Wirahadikusumah (Panglima Kodam V/Jaya waktu itu) datang ke
rumah, kami tahu Ayah diculik gerombolan PKI,” kata Ratna, pensiunan Pertamina.


Meski tidak mengetahui pasti apakah PKI pelaku tunggal penculikan itu, Ratna, kini 60
tahun, melihat PKI dan Aidit tidak lebih dari sosok pengecut. ”Dia tidak berani datang
sendiri, tapi menggunakan dan memperalat orang-orang bawah untuk mencapai
tujuannya,” kata Ratna.


Dia tidak bisa menyimpulkan PKI sebagai pelaku utamanya, ”Karena saat itu Aidit sangat
dekat dengan Presiden Soekarno.” Ratna kerap melihat Aidit berpidato di samping
Soekarno. Tidak hanya itu, Soekarno bahkan merangkul PKI menjadi salah satu kekuatan
dengan mengembangkan sistem Nasakom: Nasionalis, Agama, dan Komunis.
Karena sejak awal mengetahui bahwa paham komunis tidak mengenal agama, Ratna tidak
terlalu peduli dengan pertumbuhan pesat partai pimpinan Aidit itu. Apalagi melihat Aidit
sebagai sosok yang heroik. ”Yang menyakitkan para jenderal dibunuh oleh bangsa sendiri,
bukan oleh bangsa lain,” ujarnya.


*** Rahasia Aidit ***


Oleh : Hilmar Farid Sejarawan


Aidit memimpin PKI sejak Januari 1951. Baru beberapa bulan, partai yang baru dipukul
secara politik dan fisik menyusul peristiwa Madiun 1948 itu kembali berhadapan dengan
represi. Pada pertengahan Agustus, ribuan pemimpin dan kader partai ditangkap di Medan
dan Jakarta. Ini terjadi setelah serangan terhadap sebuah kantor polisi di Tanjung Priok
oleh gerombolan yang mengenakan simbol palu arit. Sekalipun pemimpin partai membuat
pernyataan tidak terlibat dalam serangan itu, pemerintah Sukiman tetap mengirim aparat
untuk mengejar kaum komunis. Aidit bersama Lukman dan Njoto lolos dari kejaran.
Tepat empat tahun kemudian, September 1955, PKI menempati urutan keempat dalam
pemilihan umum dengan 6,1 juta suara atau meraih 16,4 persen dari total suara. Dua tahun
kemudian, dalam pemilihan daerah, jumlah suara untuk PKI meningkat hampir 40 persen,
bahkan di beberapa daerah mereka mayoritas. Jumlah anggotanya yang semula hanya
4.000 orang meningkat puluhan kali lipat. Pada 1957 Aidit dengan bangga melaporkan
bahwa jumlah perempuan anggota partai sudah mencapai 100 ribu. Pada usia 32 tahun
Aidit sudah menjadi pemimpin salah satu kekuatan politik pasca-revolusi yang paling
signifikan dan hidup.


Apa rahasia Aidit mengubah partai yang semula terbelah ke dalam banyak faksi menjadi
kekuatan politik yang solid dan andal?


Pengambilalihan partai dari apa yang disebut ”kalangan tua” oleh Aidit, Lukman, dan
Njoto, pada awal 1951 bukanlah proses yang mudah. Perdebatan berlangsung di tingkat
pimpinan pusat sampai kader-kader daerah. Dalam berbagai kesempatan, Politbiro baru di
bawah Aidit menggunakan tangan besi. ”Pengadilan” dibentuk untuk mendisiplinkan
kader yang berseberangan pandangan dengan pemimpin baru. Banyak dari mereka yang
diadili kemudian diturunkan jabatan dan status keanggotaannya, bahkan dikeluarkan dari
partai.

Setelah berhasil melakukan konsolidasi dengan menyatukan unsur-unsur yang setuju pada
garis kebijakan baru partai, Politbiro yang dipimpin Aidit mulai membangun struktur
organisasi yang ketat. Orang yang bertanggung jawab melakukan tugas berat ini adalah
Sudisman. Seleksi dan perekrutan anggota dirapikan. Setiap calon anggota melalui tahap
pemeriksaan dan pengawasan selama lima sampai enam bulan sebelum menjadi anggota
penuh dan kemudian kader partai. Pada saat bersamaan diberlakukan juga asas demokrasi
di mana kader bisa menyuarakan perbedaan pendapat dan kritik sehingga tidak
terakumulasi menjadi faksi seperti terjadi pada masa sebelumnya.


Pendidikan politik mendapat perhatian khusus dan menurut Ruth McVey inilah kunci
yang membuat PKI mempesona banyak orang. Di tengah sistem pendidikan nasional yang
belum berkembang, jumlah sekolah dan guru yang terbatas, kegiatan pendidikan yang
diselenggarakan PKI di berbagai tingkat seperti menjadi jalan menuju modernitas. Analisis
Marxis, studi ekonomi politik, sejarah masyarakat, yang diajarkan di sekolah dan kursus
politik milik partai tidak hanya menawarkan isi tapi juga cara ”berilmu” baru.


Perluasan pendidikan ini dibarengi dengan berlipat gandanya kegiatan penerbitan. Harian
Rakjat, yang semula terbit terbatas untuk kader dan anggota partai, pada awal 1957 sudah
menjadi harian dengan tiras 60 ribu eksemplar. Cabang-cabang partai mempunyai
penerbitan sendiri seperti Suara Ibukota di Jakarta, Suara Persatuan di Semarang, Buletin
PKI Djawa Timur di Surabaya, dan Lombok Bangun di Mataram. Terjemahan karya asing ke
dalam bahasa Indonesia banyak dilakukan. Di Jawa Barat, kader partai membaca karya Mao
dalam bahasa Sunda.


Namun elemen yang paling penting dalam konsolidasi partai adalah tumbuhnya
komunitas yang berpusat pada organisasi partai. Kantor partai adalah tempat yang hidup
dan para pengurusnya adalah orang yang aktif dalam komunitas. Organisasi secara konkret
membantu anggota menghadapi masalah, mulai dari tekanan politik pihak lawan sampai
urusan sehari-hari seperti melahirkan dan kematian. Menurut Donald Hindley, PKI
berhasil membangun komunitas-komunitas berbasis solidaritas dalam masyarakat yang
penuh ketegangan dan pertentangan.


Perkembangan pesat ini hampir tidak mendapat hambatan berarti. Sejak 1951 Aidit
menitikberatkan perjuangan partai melalui jalan parlemen. Dengan strategi front nasional
PKI berhasil menciptakan ruang yang memudahkan konsolidasi partai. Sepanjang 1950-an
PKI praktis tidak pernah ”bermain di luar jalur” seperti halnya partai-partai yang bertualang
dengan terlibat aksi pemberontakan di daerah-daerah, usaha putsch atau persekongkolan
untuk menyingkirkan pemimpin nasional. Tidak mengherankan jika Soekarno melihatnya
sebagai sekutu penting untuk mengimbangi tekanan pihak militer.


Semua ini berubah pada awal 1960-an. Angkatan Darat dan kekuatan antikomunis kini
melihat PKI sebagai ancaman nyata. Ancaman bahwa PKI akan berhasil menguasai
pemerintah melalui pemilihan umum dan perjuangan parlementer membuat lawan
politiknya diam-diam mensyukuri Demokrasi Terpimpin. Ketegangan sosial dan politik
meningkat karena perekonomian memburuk. Para ahli psychological warfare dalam
maupun luar negeri sementara itu meramaikan suasana politik dengan desas-desus,
pengacauan informasi, dan aksi subversi.


PKI mulai memasuki gelanggang politik baru. Tekanan berbagai pihak membuat
keputusan-keputusan penting semakin terpusat di tangan segelintir pimpinan. Jarak
dengan massa mulai terasa. Komunitas yang tumbuh di sekeliling organisasi partai kini
terpusat pada mobilisasi dan semakin banyak pertimbangan survival yang melandasi
kebijakan partai. Buruh dilarang mogok, petani diminta menahan diri agar tidak
mengambil alih lahan, jika sasarannya adalah sekutu dalam front nasional.
Jarak pemimpin dengan massa semakin terasa, sekalipun jumlah anggota partai semakin
bertambah. Itu membuat PKI seperti ”raksasa berkaki lempung”, meminjam istilah
sejarawan Jacques Leclerc.


Seruan Aidit untuk memperkuat barisan partai dengan menambah jumlah anggota tidak
hanya disambut oleh rakyat di kampung dan desa yang melihat PKI sebagai pintu menuju
modernitas dan kemakmuran, tapi juga para pejabat dan mereka yang dalam analisis sosial
PKI disebut kabir alias kapitalis birokrat. Bagi mereka menjadi anggota partai adalah jalan
mengamankan posisi dalam birokrasi dan membangun perlindungan diri menghadapi
pergulatan sosial yang kadang berlangsung keras dan penuh konflik. PKI pun tumbuh
menjadi tubuh besar yang lamban dan tidak lagi tangkas menghadapi perubahan.
Di tengah keadaan ini Aidit mendengar berita tentang Dewan Jenderal yang berencana
menggulingkan pemerintahan Soekarno. PKI sebagai partai sudah terlalu lamban untuk
mengikuti dinamika yang berlangsung cepat. Keadaan menuntut ketangkasan politik.
Ketika keputusan menentukan harus diambil dalam hitungan hari dan jam, Aidit pun
terkucil dari Comite Central dan kawan-kawannya sendiri. Selama September 1965 tidak
ada lagi rapat Politbiro. Aidit bersama sejumlah pemimpin partai terseret dalam gelap
politik klandestin, agen ganda, dan tipu daya.


Ada yang menyebutnya pengkhianatan. Ada juga yang bilang petualangan. Bagi saya, kata
yang lebih tepat adalah tragedi.


*** Wajah Aidit di Seluloid ***


Film Pengkhianatan G-30-S/PKI, untuk beberapa lama, menjadi sumber visualisasi
tentang sosok Aidit.


BERONDONGAN peluru Cakrabirawa merangsek ke tubuh Letnan Jenderal Achmad Yani
pada malam Jumat Pahing, 30 September 1965. Saat tubuhnya terempas membentur
pintu, putranya menyaksikan dari bawah meja setrika dengan wajah pasi. Jenazah Yani
yang masih hangat lantas digeret keluar oleh para pelaku, memborehkan jejak darah yang
berlimpah-ruah di permukaan ubin.


Malam Jumat Pahing. Sebutan itu keluar dari mulut Dipa Nusantara Aidit, Ketua Partai
Komunis Indonesia, saat ia menyebutkan hari-H dari sebuah operasi rahasia. ”Kita tak
boleh terlambat,” ujarnya kesal saat ada anggota Politbiro lain menyangsikan eksistensi
Dewan Jenderal dan rencana mereka untuk melakukan kup terhadap Presiden Soekarno.
Peristiwa malam Jumat Pahing yang kelak dikenal sebagai Gerakan 30 September itu
direka ulang lewat film kolosal Pengkhianatan G-30-S/PKI (1982). Itulah pertama kalinya
masyarakat bisa menyaksikan rekaan wajah Aidit dengan jelas melalui interpretasi Syu’bah
Asa. Bagaimana gayanya berbicara, bagaimana ekspresinya saat berpikir, termasuk caranya
mengepulkan asap rokok. Ada saat Aidit hanya disorot dengan close-up pada gerak
bibirnya, terutama ketika menunjukkan strategi yang tengah dirancang. Aidit hasil tafsiran
sutradara Arifin C. Noer adalah Aidit yang penuh muslihat.


Adalah Syu’bah Asa, budayawan yang kala itu wartawan majalah Tempo, yang didapuk
Arifin sebagai sang gembong PKI. ”Tadinya saya ingin memberikan perwatakan yang lebih
utuh,” ungkap mantan Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta ini, ”tapi Arifin
bilang tak perlu karena dia hanya butuh beberapa ekspresi saja.”


Maka, seperti tersaji di film berdurasi 271 menit itu, pada saat Aidit muncul di layar, yang
tersodor adalah fragmen-fragmen seperti mata yang mendelok-delok marah atau gaya
merokok yang menderu-deru gelisah. ”Saya tidak merasa sukses memainkan peran itu,”
kata Syu’bah.


Tapi ia tak kecewa karena sejak awal tahu bahwa sosok Aidit dibutuhkan hanya sebagai
pengimbang, bukan tokoh utama yang menjadi alasan film itu dibuat. Belum lagi
menyangkut akses untuk mempelajari karakter Aidit yang sangat terbatas. Bahan riset
minim, dan akses ke keluarga almarhum saat itu tak ada. ”Waktu itu tidak mungkin
menghubungi keluarga Aidit. Ada jurang besar yang tak terjembatani. Tidak seperti
sekarang,” ujar Syu’bah. Maka, selain dengan penafsirannya sendiri atas skenario yang
ditulis Arifin, Syu’bah mendalami tokoh yang akan diperankannya melalui diskusi intens
dengan Amarzan Ismail Hamid, penyair yang mengenal Aidit secara pribadi. Sepanjang
malam mereka berdiskusi di Wisma Tempo Sirnagalih, Megamendung, Jawa Barat.
Apa saja informasi penting yang ia dapatkan? ”Amarzan bilang dia sudah bertemu
pemimpin komunis dunia seperti Mao Tse Tung dan Ho Chi Minh. Semua karismatis di
mata dia. Tapi Aidit tidak,” ungkap Syu’bah. ”Dari informasi itulah saya tafsirkan ke dalam
gerak wajah.” Namun, ketika besoknya syuting dilakukan, Syu’bah sempat ketiduran.
”Kecapekan,” tuturnya. Ketika film itu selesai, Syu’bah kembali mengunjungi Amarzan,
menanyakan pendapatnya tentang peran yang ia mainkan. ”Buruk,” ujar sang penyair
seperti diulangi Syu’bah.


Amarzan, 66 tahun, yang dihubungi wartawan Tempo Arti Ekawati, menyatakan memang
itu bukan peran yang gampang. ”Sulit untuk menggambarkan sosok seorang Aidit,”
katanya. ”Apalagi itu film propaganda. Semua yang ada di dalamnya dibuat berdasarkan
keinginan sang pemesan.” Di awal proses preproduksi, sebetulnya Amarzan sempat terlibat
atas ajakan Arifin dan Danarto, yang menjadi direktur artistik film. ”Saya memberikan
masukan tentang setting suasana rapat-rapat PKI dan suasana pada waktu itu,” tuturnya.
Belakangan ia mengundurkan diri setelah sarannya tidak banyak didengar.


Danarto pun tak bertahan lama dalam pembuatan film yang digarap selama dua tahun
dengan melibatkan lebih dari 10 ribu pemain figuran itu. ”Setelah berbulan-bulan
melakukan riset, saya akhirnya juga mengundurkan diri sebagai art director karena soal
honor,” Danarto menandaskan.


Bujet film ini sendiri tercatat Rp 800 juta, yang menjadikannya sebagai film termahal di
awal 1980-an.


EMBIE C. Noer, yang bertindak sebagai direktur musik film itu, ingat kata-kata Arifin saat
mendeskripsikan film yang akan mereka buat dengan sangat singkat, ”Ini film horor, Mbi.”
Bagi Embie, frasa sependek itu cukup menjadi dasar baginya untuk mengembangkan tafsir
bebunyian. ”Saya bukan cuma adiknya atau krunya, melainkan juga anaknya sekaligus
muridnya sejak dia masih muda,” tutur Embie. ”Karena itu, yang sama-sama kami pahami
adalah Aidit sebagai sebuah diskusi politik ketimbang sebagai rekonstruksi fakta yang
debatable.”


Contoh kecil yang menunjukkan itu, antara lain, adegan Aidit merokok yang dianggap
menyimpang dari kebiasaan Aidit sebenarnya yang tidak merokok—seperti diyakini sang
adik, Murad Aidit. ”Adegan itu justru menegaskan Mas Arifin sedang tidak
merekonstruksi fakta, melainkan menyodorkan sebuah diskusi politik,” kata Embie. Ia
prihatin melihat pelbagai diskusi yang muncul saat itu tentang pencitraan Aidit, dan film
itu secara umumnya, yang hanya ditakar dari sisi estetika, bukan secara substantif. ”Banyak
yang gagal membaca film ini,” keluh Embie. Dalam wawancaranya dengan majalah ini 23
tahun silam, Arifin mengatakan bahwa niatnya membuat film ini adalah sebagai ”film
pendidikan dan renungan tanpa menawarkan kebencian” (Tempo edisi 6/14, 7 April 1984).
Berkaitan dengan tugasnya untuk memberi tafsir musikal pada film itu, Embie
berkeyakinan bahwa ranah politik Indonesia, sampai detik ini, adalah konsep budaya Barat
dengan para pionir seperti Ronggowarsito untuk sastra dan metafisika serta Raden Saleh
untuk estetika. ”Maka saya meramu suling bambu, tape double-cassette, keyboard,
dengan semangat budaya pseudo-modern,” ujarnya.


Perdebatan yang sempat muncul mengenai sosok Aidit dalam film itu, seingat Jajang C.
Noer, tak sampai menggelisahkan suaminya. ”Dia sangat excited ketika melihat hasil
akhirnya,” tutur Jajang.


Bagi Jajang, proses persiapan bahan untuk sosok Aidit adalah saat yang sibuk sekaligus
mencemaskan. Mereka sibuk membuat kompilasi dari pelbagai bahan tertulis. Itulah yang
diolah Arifin menjadi sebuah skenario. Yang membuat cemas, tim Arifin hanya memiliki
satu foto Aidit, ketika sang figur berada di sebuah acara di Istora. Rumitnya lagi, foto itu
pun tak begitu jelas. Persoalan menjadi sedikit lebih mudah setelah mereka berhasil
mendapatkan sebuah pasfoto Aidit yang lebih jelas. ”Ternyata bentuk fisik Aidit tak
sebesar yang kami bayangkan semula,” ujar Jajang. ”Dari pasfoto itulah Mas Arifin punya
kesan bahwa Aidit terlihat mirip Syu’bah. Bukan pada kepersisan wajah, tapi pada wibawa.”
Jajang mencontohkan, pencarian pada ”kemiripan wibawa” ketimbang kemiripan wajah
juga menjadi pertimbangan utama saat mencari pemeran Bung Karno, yang akhirnya jatuh
pada Umar Kayam.


Sudah selesaikah persoalan? Ternyata belum. Jajang mengungkapkan, mereka masih
kesulitan mendapatkan ciri atau gestur khusus Aidit, meski sudah mencari informasi ke
Subandrio dan Syam Kamaruzzaman. ”Satu-satunya tambahan informasi yang muncul
adalah bahwa Aidit itu dandy. Bukan dalam pengertian genit, tapi pada gaya busana. Dan di
situlah repotnya,” Jajang terkekeh sejenak. ”Syu’bah nggak bisa dibilang dandy.”
Ihwal Aidit yang merokok itu, Jajang punya jawaban lain. Saat itu Arifin merasa merokok
sebagai representasi dari The Thinker. ”Secara visual terlihat lebih bagus penggambaran
seseorang yang berpikir keras itu lewat rokoknya,” ulas Jajang. ”Itu sebabnya ada adegan di
mana layar hanya dipenuhi asap rokok sebagai metafor sumpeknya suasana politik
Indonesia.”


Dengan segala pro-kontra yang muncul akibat film Pengkhianatan G-30-S/PKI, satu hal
yang tak bisa disangkal adalah generasi yang lahir pada 1970-an dan sesudahnya
mendapatkan satu-satunya gambaran tentang sosok Aidit secara jelas hanya dari film itu.
Setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 1998, buku tentang Aidit kemudian
bermunculan, termasuk yang ditulis oleh mereka yang mengenalnya lebih dekat.




*** Sajak Pamflet Sang Ketua ***


D.N. Aidit berhasrat juga menjadi penyair. Tapi puisinya pernah ditolak HR Minggu.
TELEPON kantor Harian Rakjat di Jalan Pintu Besar Selatan Nomor 93, Jakarta Pusat,
meraung-raung pada suatu Sabtu malam, sekitar awal 1965. Dipa Nusantara Aidit, Ketua
Comite Central Partai Komunis Indonesia, mencari ”orang yang bertanggung jawab” atas
seleksi puisi di HR Minggu, lembar kebudayaan yang berbeda isi, bahkan logonya, dengan
Harian Rakjat edisi reguler. Telepon itu disambut Amarzan, redaktur yang memang
ditugasi menyeleksi kiriman puisi.


”Apakah sajak-sajak saya sudah diterima?” terdengar Aidit di seberang telepon.

”Sudah.”
”Jadi, dimuat dalam edisi besok?”

Setelah berpikir sejenak, Amarzan menjawab, ”Tidak.”

”Maksudnya?”
”Ya, tidak dimuat”

”Mengapa tidak dimuat?”

”Menurut saya, belum layak dimuat.”

Hening. Lalu brak! Telepon dibanting.



Amarzan, ketika itu 24 tahun, baru dua tahun menjadi redaktur. Ia paham, menolak puisi
Aidit bisa menjadi perkara besar. Sejam kemudian, telepon kantor kembali berdering,
masih mencari Amarzan. Kali ini dari Njoto, Wakil Ketua II CC PKI sekaligus Pemimpin
Redaksi Harian Rakjat. Dengan nada kalem, Njoto bertanya apakah benar Amarzan
menolak memuat sajak-sajak kiriman Aidit. Amarzan membenarkan.


”Bung yakin akan pendapat Bung?” Njoto bertanya.

”Yakin.”
”Tak ada hal-hal lain yang bisa dipertimbangkan?”

”Tidak.”
”Baik. Kalau begitu, saya mendukung keputusan Bung.”



Plong. Tadinya ia menyangka Njoto bakal memaksanya memuat sajak-sajak Aidit itu.
”Jika itu terjadi, saya akan keluar,” katanya mengenang ”insiden telepon” itu, tiga pekan
lalu. Ketika itu, gajinya Rp 525 per bulan, cukup untuk makan dua pekan di masa beras
sulit dan apa-apa harus mengantre.


Menurut Amarzan, kini 66 tahun, ia menolak puisi Aidit justru karena ingin
menyelamatkan ”martabat” sang Ketua. ”Puisinya sejenis puisi poster,” katanya. Sayang,
Amarzan lupa puisi Aidit mana yang ia tolak ketika itu.


Aidit lumayan banyak menulis puisi, dari 1946 sampai 1965. Sajak-sajaknya hampir
seluruhnya berisi puji-pujian kepada partai, atau anjuran revolusi, bahkan dalam sajak yang
sangat personal sekalipun. Selain di Harian Rakjat itu, sajak Aidit kerap muncul di Suara
Ibukota, sebuah koran politik Jakarta yang diasuh seorang aktivis PKI, Hasan Raid.
Aidit menggunakan puisi sebagai media untuk berkomentar atas peristiwa aktual yang ia
lihat dan dengar, dengan gaya menyeru dan berpe_tuah. Sajak-sajak di kedua koran itu
kemudian dikumpulkan dan diterbitkan dalam antologi Lumpur dan Kidung.


Baca, misalnya, sajaknya Raja Naik Mahkota Kecil, yang ditulis pada 23 Juni 1962 untuk
menyindir pengangkatan Letnan Jenderal Ahmad Yani sebagai Kepala Staf Angkatan
Darat, menggantikan Jenderal Abdul Harris Nasution.


Udara hari ini cerah benar

pemuda nyanyi nasakom bersatu

gelak ketawa gadis remaja

mendengar si lalim naik takhta

tapi konon mahkotanya kecil


Sajak empat kuplet ini ditutup dengan stanza: Ayo, maju terus kawan-kawan/ Halau dia ke
jaring dan jerat/ tangkap dia dan ikat erat/ hadapkan dia ke mahkamah rakyat!
Atau baca: Yang Mati Hidup Kembali, yang ditulisnya pada 14 Februari 1961, sebulan
setelah Patrice Émery Lumumba, pemimpin gerilya rakyat Kongo, mati dibunuh agen
rahasia Amerika, CIA. Butir-butir airmata membasahi koran pagi/ Orang hitam berhati
putih itu/ dibunuh siputih berhati hitam!


Aidit sendiri pernah sekali menulis pada 1964 bahwa sastra itu harus bertanggung jawab,
berkepribadian nasional, dan mengabdi kepada buruh dan rakyat. Kredo ini menjadi
semacam tren yang dianut para penulis ”berhaluan kiri”. Amarzan, sebagai redaktur HR
Minggu, secara pribadi menganggap puisi tak selalu harus begitu. Ia sendiri, sebagai
penyair, bisa saja menulis puisi tentang cinta, kebimbangan, bulan, dan laut.
Tak hanya Amarzan yang menganggap puisi-puisi Aidit jelek. Oey Hay Djoen, bekas
anggota parlemen dan Dewan Pakar Ekonomi PKI, juga berpendapat demikian. Bekas
pejabat PKI itu mengenang, ia sering dikirimi sajak oleh Aidit untuk dimintai pendapat.
Tapi laki-laki yang masih gesit di usia 78 tahun itu mengaku tak pernah menggubrisnya.
”Buat apa? Jelek,” katanya. Hay Djoen sendiri menulis prosa memikat dengan nama
samaran Ira Iramanto atau Samandjaja.


Sobron Aidit—adik D.N. Aidit—sekali waktu pernah bercerita bahwa abangnya
sesungguhnya mengagumi sajak-sajak Chairil Anwar. Chairil dan Sobron pada 1949 pernah
satu kos di Jalan Gondangdia Lama Nomor 2, Jakarta Pusat. Mengetahui adiknya
berkawan dengan penyair terkemuka Indonesia itu, Aidit membual: ”Chairil itu, kalau
masih hidup, pasti berpihak pada PKI, meski tak mau jadi PKI.”


Sobron sendiri saat itu kerap mengirim cerpen ke beberapa koran dan majalah sastra. Aidit
kerap mengkritik cara adiknya itu menulis. ”Abangku ini ternyata banyak tahu soal-soal
teori sastra mutakhir,” tulis Sobron dalam Aidit (2003). Aidit kemudian kerap
meminjamkan buku-buku penulis Rusia seperti Tolstoi, Dostoyevsky, dan Chekov kepada Sobron.


Barangkali menulis puisi, bagi Aidit, hanya semacam gaya seorang pemimpin partai. Sebab,
banyak pemimpin partai komunis di Asia yang pandai menulis sajak. Mao Zedong menulis
sajak. Ho Chi Minh malah punya kumpulan sajak yang diterjemahkan ke berbagai bahasa,
Prison Diary. Para pemimpin PKI lainnya—Njoto, Sudisman, Alimin, dan M.H.
Lukman—juga menulis sajak.


Ketika tersebar kabar Aidit meninggal, 23 November 1965, Mao Zedong menulis sajak
belasungkawa yang dimuat di sebuah koran Tiongkok, yang terjemahan Indonesianya
kira-kira:


Di jendela dingin berdiri reranting jarang

beraneka bunga di depan semarak riang

apa hendak dikata kegembiraan tiada bertahan lama

di musim semi malah jatuh berguguran.



Setelah Keluar dari Laci Penulis


Puluhan buku menyajikan aneka versi tentang sosok D.N. Aidit. Ayah yang baik hingga
politikus oportunis.


D.N. Aidit dan PKI adalah kesatuan yang tak mungkin dipisahkan.”


Murad Aidit menuangkan kesaksiannya terhadap sang kakak dalam buku Aidit Sang
Legenda. Ia melukiskan Achmad Aidit alias Dipa Nusantara Aidit sebagai aktivis yang
habis-habisan membesarkan partai palu arit. Begitu sibuknya, Aidit kurang memperhatikan
segala kesulitan yang ia hadapi. ”Bang Amat,” begitu Murad memanggil Aidit, ”adalah
kakak yang sungguh tak dapat diharapkan.”


Ia mencontohkan saat meminta uang biaya pernikahan, ia sama sekali tak diberi. Tapi, pada
saat yang lain, rasa kesal dan benci kepada Bang Amat tandas ketika Murad tergolek lemah
akibat TBC. Dokter memberi Murad obat TBC terbaru dari Swiss, yang belum beredar di
Indonesia. Adalah Aidit yang mendapatkan obat itu, mengandalkan jaringan
pertemanannya di luar negeri. Cerita pun mengalir. Aidit kali ini disebut sebagai kakak
yang sempurna.


Inilah sepenggal kisah haru-biru hubungan kakak-beradik yang ditulis dalam buku 264
halaman yang terbit dua tahun lalu. Tak cuma Murad. Sobron Aidit, adik sepupu Aidit,
juga menulis beberapa buku. Begitu pula Ibarruri, putri tertuanya. Iba menyebut sang ayah
dalam buku Ibarruri Putri Alam yang terbit tahun lalu sebagai ”manusia yang paling
kucintai”.


Buku-buku dari lingkaran terdalam keluarga Ketua Comite Central Partai Komunis
Indonesia itu tak mungkin bisa kita baca sepuluh tahun lalu. Kendati sudah mulai ditulis
belasan tahun lalu, buku-buku itu hanya teronggok di laci penulis. Kini, di era reformasi,
kata sejarawan Asvi Warman Adam, ”Kita bisa lebih mengenal sosok Aidit dari sudut
pandang personal.”


Ketika mendengar berita kepastian tewasnya sang Ayah, misalnya, Iba menuliskan, ”Di
masa aku remaja, aku tiba-tiba kehilangan manusia yang paling kucintai, kukagumi,
yang menjadi teladan dalam cita-cita.” Ibarruri adalah nama pemberian Aidit yang diambil dari
nama pemimpin gerakan Komunis Internasional asal Spanyol, Dolores Ibarruri. Dolores
terkenal dengan aksi menentang diktator Spanyol, Jenderal Franco.


Meski memuji setinggi langit sang ayah, Iba menyebut Aidit sebagai ayah yang tak
mengerti merawat anak. Suatu kali di masa kecil, ia pernah menangis. Aidit yang tak tahu
kenapa anaknya menangis terus memberi minum hingga perutnya kembung.
Sejak Soeharto tumbang, buku-buku yang berusaha ”membersihkan” sosok Aidit bebas
beredar. Tak hanya tulisan saudara dan anak—yang jelas lebih banyak memunculkan sosok
manusia Aidit dan dibumbui emosi karena kedekatan pada sang tokoh—tapi juga penulis
atau peneliti yang tak ada hubungan apa pun dengan Aidit. Buku Menolak Menyerah;
Menyingkap Tabir Keluarga Aidit (2005) karya Budi Kurniawan dan Yani Andriansyah
boleh dikelompokkan dalam buku yang tak boleh terbit di masa Orde Baru.
Dalam buku itu, tak ada kesan dalang pembunuhan kejam dan bengis—sifat yang
tertanam pada sebagian besar benak orang Indonesia karena dijejali buku-buku sejarah
yang memojokkan Aidit—pada sosok politisi yang dikenal dekat dengan Soekarno ini.
Buku tersebut bahkan memuat informasi bahwa Aidit terkucilkan dari peristiwa besar
G30S/PKI. ”Yang terjadi adalah peristiwa di luar skenario Aidit,” tulis Budi dan Yani.
”Terjadi penyingkiran ke Halim, yang mengakibatkan terputusnya komunikasi.”
Kebanyakan buku yang terbit di era Orde Baru memperkenalkan Aidit sebagai sosok yang
pantas dimusnahkan. Buku Pergolakan Politik Tentara Sebelum dan Sesudah G30S/PKI
yang ditulis Todiruan Dydo pada 1989 menyebut Aidit sebagai pemimpin partai licik dan
oportunis yang khawatir Angkatan Darat akan berkuasa setelah Soekarno meninggal. Maka
Aidit meniupkan isu adanya Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta. Aidit pula yang
memerintahkan penangkapan para jenderal.


Buku ini menyebut Aidit sebagai sosok yang amat dekat dengan Soekarno, dan
memanfaatkan kedekatan itu untuk kepentingannya sendiri. Aidit dituding sebagai orang
yang selalu menjelek-jelekkan tentara di hadapan Soekarno. Ia bahkan dituding sebagai
sosok yang menyaring informasi yang akan disampaikan kepada Presiden. Ketika itu,
Presiden tidak bisa mengandalkan informasi intelijen karena dalam kalangan tentara
sendiri terjadi kesimpang-siuran akibat penyusupan orang-orang PKI.


Aidit adalah dalang G30S/PKI. Demikian buku kontroversial Siapa Menabur Angin akan
Menuai Badai yang dikarang Soegiarso Soerojo pada 1988. Dituliskan bahwa Aidit
sebenarnya baru akan merencanakan kudeta pada 1970. Namun dokumen yang berisi
instruksi agar seluruh pimpinan PKI bersiap memuluskan rencana itu bocor. ”Seperti
disambar geledek di siang bolong, D.N. Aidit yang ketahuan belangnya menjadi sangat
marah,” tulis Soegiarso. Inilah yang membuat Aidit mempercepat kudeta menjadi 1965.
Soetopo Soetanto dalam kumpulan tulisan Kewaspadaan Nasional dan Bahaya Laten
Komunis menyebutkan kelihaian Aidit memanfaatkan tentara untuk membunuh para
jenderalnya sendiri. ” Bahwa cara kerja PKI harus konspiratif,” demikian buku ini mengutip
konstitusi PKI yang merupakan ide Aidit. Pemimpin Politbiro PKI ini pun memerintahkan
infiltrasi ke tubuh militer. Para tentara yang sebelumnya memiliki latar belakang PKI
didekati dan dipakai untuk melancarkan kudeta 1965.


Dalam Rangkaian Peristiwa Pemberontakan Komunis di Indonesia, Aidit digambarkan
sebagai sosok yang anti-Tuhan. Koran-koran berhaluan komunis memproklamasikan
Pancasila tanpa sila pertama. ”Juga dalam kesempatan berpidato di depan peserta
Pendidikan Kader Revolusi 1964, D.N. Aidit berkata bahwa sosialisme, kalau sudah tercapai
di Indonesia, maka Pancasila tak lagi dibutuhkan sebagai alat pemersatu,” begitu tertulis
dalam buku keluaran Lembaga Studi Ilmu-Ilmu Kemasyarakatan, Jakarta.
Tribuana Said dan D.S. Moeljanto dalam Perlawanan Pers Indonesia BPS Terhadap Gerakan
PKI menceritakan buntut panjang pidato Aidit itu. Pers pun terbelah, berbagai golongan
mengecam Aidit. Pro-kontra berakhir setelah Wakil Perdana Menteri Chaerul Saleh
memerintahkan semua pihak menghentikan polemik pidato tersebut. Aidit pun sempat
mengatakan bahwa pidatonya dipelintir harian Revolusioner, padahal ia tidak bermaksud
mengatakan bahwa Pancasila tak lagi diperlukan.


Ini tak jauh berbeda dengan buku-buku pelajaran sekolah yang memuat versi pemerintah
Orde Baru. Buku Sejarah Nasional Indonesia, misalnya, jelas-jelas menyebut
PKI dan Aidit sebagai dalang tunggal peristiwa 1965. Buku yang antara lain dikarang oleh Nugroho
Notosusanto itu menuai kontroversi karena menghujat Soekarno dan menyanjung
Soeharto sebagai penyelamat bangsa. Di buku itu, juga buku-buku pelajaran lain,
digambarkan sosok Aidit yang kejam, bengis, dan tak percaya pada Tuhan alias ateis.
Dalam suatu kesempatan, Aidit mengemukakan prinsip dan pilihan hidupnya kepada
Murad. ”Kau tahu, aku memang tidak akan menjadi pahlawan keluarga. Pahlawan keluarga
itu terlalu sederhana dan amat egois. Kita harus menjadi pahlawan bangsa.” Kita tahu,
ucapan Aidit ini tak berujung sebagaimana yang ia harapkan. Ia tak akan pernah tercatat
sebagai pahlawan.


Aidit dalam Bingkai Nawaksara


Oleh: Asvi Warman Adam; Peneliti LIPI


Pertanyaan seberapa besar atau seberapa kecil peran Aidit dalam Gerakan 30 September
mengimplikasikan bahwa ia terlibat dalam manuver politik tingkat tinggi tahun 1965.
Versi-versi dalang peristiwa tersebut yang selama ini bersifat tunggal (PKI, Angkatan
Darat, Soekarno, Soeharto, CIA, dst.) tak luput dari kritik. Peristiwa yang begitu kompleks
tidak mungkin dilakukan satu orang, satu kelompok, atau satu golongan saja. Dalang
peristiwa itu lebih dari satu, sehingga analisis Bung Karno sebagaimana disampaikan dalam
pidato Nawaksara tahun 1967 dianggap lebih tepat. Menurut Soekarno, peristiwa itu
merupakan pertemuan tiga sebab: keblingernya pimpinan PKI, subversi Nekolim, dan
adanya oknum-oknum yang tidak benar.


Kalau digunakan matematika sederhana, andil masing-masing pihak yang disebut dalam
pidato Nawaksara itu 33,33 persen. Tulisan ini mencoba mengelaborasi persentase tersebut.
Mana yang lebih menentukan, pihak asing atau unsur dalam negeri?
Pimpinan PKI yang ”keblinger” itu adalah Biro Chusus yang diketuai langsung Aidit di
mana Sjam Kamaruzzaman boleh dikatakan direktur eksekutifnya. Nekolim
(Neokolonialisme) tentu mengacu kepada Amerika Serikat (AS), sungguhpun arsip yang
terbuka belakangan memperlihatkan bahwa Inggris dan Australia juga mendukung
sepenuhnya gebrakan membasmi komunis. Namun dalam kategori pihak asing itu tentu
tidak dapat diabaikan peran Uni Soviet (termasuk Pakta Warsawa, konon agen asal Cek,
Ladislav Bittman, terlibat) dan RRC. Sebelum meletusnya Gerakan 30 September, dokter-
dokter
Cina telah keluar-masuk Istana Presiden. Arsip Jepang mengenai tahun 1965 juga
perlu diperiksa.


Rumusan ”oknum yang tidak benar” itu konon penghalusan dari ”jenderal yang tidak
benar”. Proses penulisan pidato Nawaksara itu sendiri perlu diteliti karena Soekarno
meminta masukan dari beberapa tokoh. Apakah yang dituju Soekarno adalah Soeharto
(yang pada masa awal beraliansi dengan Nasution)? Atau termasuk juga Untung dan
Latief?


”Keblingernya” Aidit disebabkan situasi yang sangat meruncing saat itu. Menjelang
peristiwa itu, kekuasaan terpusat pada tiga pihak, yakni Soekarno, PKI, dan Angkatan Darat
(AD). AD menguasai senjata, sedangkan PKI mendominasi dukungan massa. Kalau saat
itu diadakan pemilu, niscaya partai komunis akan menang. Sebab itu kekuatan
antikomunis seperti Jenderal Suhardiman mengupayakan Soekarno menjadi presiden
seumur hidup agar status quo tetap terjaga. Bung Karno sendiri tidak pernah memberikan
kesempatan kepada elite komunis memimpin departemen kecuali jadi menteri negara.
Soekarno juga menolak usulan pembubaran Himpunan Mahasiswa Islam oleh mahasiswa
kiri. Kekuatan Soekarno selain dukungan masif dari rakyat juga terletak pada kemampuan
menjaga perimbangan politik. Ia akhirnya jatuh karena keseimbangan itu patah setelah
meletus Gerakan 30 September.


Kondisi perekonomian yang terpuruk, suasana politik yang kian panas karena konflik
tanah dan kebudayaan, konfrontasi dengan Malaysia dan agitasi terhadap pihak asing (AS
dan Inggris), serta beredarnya dokumen Gilchrist dan Dewan Jenderal, menyebabkan
semua pihak bersiaga. AD dapat mengkudeta Soekarno namun tidak akan didukung rakyat
dan dunia internasional. PKI tidak punya senjata untuk makar. Dalam konteks ini, bila AD
mengambil langkah lebih dulu dan berhasil, Presiden akan terguling dan selanjutnya PKI
akan dibasmi. Karena itu, manuver Dewan Jenderal (yang keberadaannya dipercayai sang
ketua) harus dicegah. Rapat antara motor Biro Chusus PKI, Sjam (pihak sipil) dengan
Untung dan Latief (unsur militer) memilih cara yang ”lazim” dalam sejarah revolusi
Indonesia, yakni culik. Para Jenderal itu akan diculik dan dihadapkan kepada Bung Karno.
Bila mereka dipecat atau dipermalukan, ancaman kudeta tidak terjadi lagi dan selanjutnya
pihak kiri tentu dapat meminta kursi pimpinan departemen kepada Presiden.
Konsep culik sudah dipraktekkan sejak Desember 1945, ketika terjadi penculikan dan
pembunuhan terhadap Menteri Negara Otto Iskandar di Nata. PM Sjahrir juga pernah
diculik walaupun kemudian ia kembali dengan selamat. Bahkan Soekarno dan Hatta pada
hakikatnya pernah diculik oleh pemuda sehari sebelum Proklamasi. Pada 1980, Soeharto
berpidato bahwa ia tidak segan memerintahkan untuk menculik seorang anggota MPRS
bila mereka mencoba mengubah UUD 1945. Pidato tersebut mendapat penentangan dari
kelompok yang kemudian dikenal sebagai Petisi 50. Sebelum akhir pemerintahan
Soeharto, anggota komando khusus TNI AD telah menculik beberapa orang aktivis.


Karena misi utamanya hanya penculikan, maka dapat dipahami keanehan struktur Gerakan
30 September yang dipimpin seorang letnan kolonel, tetapi membawahkan perwira yang
lebih tinggi pangkatnya. Dengan alasan menyelamatkan Presiden, gerakan itu dipimpin
oleh Komandan Batalion Cakrabirawa. Persiapan militer tidak dilakukan secara besarbesaran
karena tujuannya bukan menguasai ibu kota.


Namun ternyata penculikan terhadap tujuh orang jenderal itu gagal, karena hanya tiga
orang yang masih hidup ketika dibawa ke Lubang Buaya. Ketika dilapori peristiwa ini,
Soekarno di pangkalan AU Halim Perdanakusuma memerintahkan agar mereka
menghentikan gerakan. Terjadi kekalutan karena ternyata di dalam gerakan itu tidak ada
satu komando yang dapat mengambil keputusan tunggal. Sjam hanya koordinator antara
Biro Chusus dan perwira militer.


Keblingeran pertama dari Biro Chusus PKI adalah keterlibatan mereka dalam perencanaan
penculikan. Keblingeran keduanya adalah meneruskan gerakan dengan menyiarkan
dokumen kedua (tentang pendemisioner kabinet Dwikora) dan dokumen ketiga
(penyesuaian pangkat militer tertinggi menjadi letnan kolonel) setelah terjadi kevakuman
enam jam pada tanggal 1 Oktober 1965. Padahal, dalam percobaan kudeta, satu menit pun
sangat berharga.


Kalau perintah Soekarno untuk menghentikan Gerakan 30 September itu dipatuhi,
mungkin korban yang jatuh tidak banyak. Kalau Soeharto yang membangkang perintah
Presiden untuk datang ke Halim Perdanakusuma langsung dipecat oleh Soekarno tentu
sejarah Indonesia akan berbeda. Kekurangan utama Soekarno adalah karena ia
menganggap enteng seorang Mayor Jenderal Soeharto.


Siapa yang diuntungkan?


Peran seseorang atau kelompok dalam suatu kegiatan berbanding lurus dengan
keuntungan yang (akan) diperolehnya. Dalam peristiwa 1965 itu Soekarno adalah pihak
yang dirugikan karena selanjutnya ia kehilangan jabatannya, sedangkan Soeharto sangat
diuntungkan. Ia yang selama ini kurang diperhitungkan berpeluang meraih puncak
kekuasaan karena para seniornya telah terbunuh dalam satu malam. Yang sangat dirugikan
pula adalah bangsa Indonesia secara keseluruhan karena enam jenderal, empat perwira,
seorang gadis cilik, dan sekitar setengah juta orang terbunuh setelah peristiwa tersebut.
Yang paling diuntungkan dari tragedi nasional tersebut tak lain dari Nekolim.
Tahun 1965 menjadi watersheet, pembatas zaman. Terjadi perubahan drastis secara
serempak dalam segala bidang. Politik luar negeri Indonesia menjadi lembek dan pro-
Barat. Ekonomi berdikari berubah jadi ekonomi pasar yang bergantung pada modal asing
dan utang. Polemik dalam bidang politik dan kebudayaan berganti dengan asas tunggal
yang tidak membiarkan kritik.


Pergantian Duta Besar Howard Jones dengan Marshal Green bulan Juni 1965 menandai
perubahan rencana AS terhadap politik Indonesia. Kelompok kiri didorong untuk
melakukan suatu gerakan sehingga ada alasan bagi AD untuk menumpasnya sampai habis.
Skenario model AS itu lebih didukung arsip sejarah ketimbang imajinasi seorang profesor
gaek bernama Victor Fic bahwa Mao Tse Tung menyuruh Aidit mengambil kekuasaan.
Anehnya, Soekarno kok mau dan membiarkannya. Selanjutnya Bung Karno akan
beristirahat di danau angsa Cina.


Dialog imajiner itu berbunyi:


Mao: Kamu harus bertindak cepat.


Aidit: Saya khawatir AD akan menjadi penghalang.


Mao: Baiklah, lakukanlah apa yang saya nasihatkan kepadamu, habisi semua jenderal dan
para perwira reaksioner itu dalam sekali pukul. Angkatan Darat lalu akan menjadi seekor
naga yang tidak berkepala dan akan mengikutimu.


Aidit: Itu berarti membunuh beberapa ratus perwira.


Mao: Di Shensi Utara saya membunuh 20.000 orang kader dalam sekali pukul saja.


Tulisan Fic bersumber dari harian The Straits Times, Singapura, 26 April 1966, yang
mengutip tulisan anonim di Harian Angkatan Bersenjata, Jakarta, 25 April 1966. Siapa
penulis anonim di Jakarta itu? Menurut keterangan Salim Said yang saat itu wartawan
pemula Harian Angkatan Bersenjata, harian tersebut memiliki versi bahasa Inggris. Apakah
penerbitan itu bekerja sama dengan pihak AS dan Inggris? Yang jelas, arsip departemen luar
negeri AS mengakui bahwa mereka memberikan daftar pengurus PKI di Indonesia kepada
pihak AD melalui Adyatman, sekretaris Adam Malik. Juga mereka memberikan bantuan
dana Rp 50 juta kepada KAP (Komite Aksi Pengganyangan) Gestapu yang terbentuk
setelah meletus Gerakan 30 September serta dipimpin oleh Subchan Z.E. dan Harry Tjan
Silalahi.


Setelah membaca berbagai buku dan arsip, saya cenderung menganggap pemikiran
Soekarno bahwa Gerakan 30 September adalah pertemuan dari tiga sebab merupakan
analisis yang paling lengkap dari berbagai versi tunggal yang ada. Andil ketiganya
(keblingeran pimpinan PKI, Nekolim, dan oknum yang tidak benar) tidak sama. Menurut
hemat saya, faktor kedua, yakni Nekolim, merupakan pemegang saham mayoritas.


Beijing, 19 September 2007



sumber : Majalah Tempo Edisi 32/XXXVI/01 – 7 Oktober 2007









TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: D.N. Aidit
Ditulis oleh sukacita
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://yoilah.blogspot.com/2013/05/dn-aidit.html?m=0. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 comments:

Post a Comment

Komentar

Template by Berita Update - Trik SEO Terbaru. Original design by Bamz | Copyright of Pilpres , Capres, Jokowi, Prabowo indonesia 2014.