Pilkada DKI, Keberhasilan Strategi Golkar?

Posted by sukacita 0 comments
Menarik melihat hasil Pilkada DKI Jakarta 2012 ini, Dimana semuanya sudah mengetahui hasil sementara pasangan Foke-Nara dan Jokowi-Ahok akan melanjutkan pemilihan ke tahap pemilihan selanjutnya. Saya pribadi sedari awal sudah memprediksikan keduanya akan melenggang ke tahap kedua. Berbeda dengan calon-calon lainnya sebagi incumbent Foke pasti punya banyak kesempatan, sementara Jokowi sudah memulai “kampanyenya” jauh jauh hari,terutama dengan kemunculan “mobil ESEMKA-nya” yang menjadikannya semakin pada posisi ‘darling media”.

Dari kondisi perpolitikan Nasional saat ini, Bagi Golkar tentulah Partai Demokrat dan PDIP harus dilihat sebagai “Pesaing terberat” mereka dalam pemilihan umum dan legislatif 2014, mungkin bisa ditambahkan dengan PKS, PPP, tetapi tetaplah PD dan PDIP yang menjadi acuan utama Golkar. Dalam kondisi saat ini PD yang hampir karam tentu menjadikan Golkar sangat memperhatikan langkah langkah politik PDIP.

Jabatan Gubernur DKI menarik dari konstelasi politik nasional, meskipun sama sama gubernur dengan propinsi lainnya, Nilai gubernur GKI menjadi sedikit berbeda dengan propinsi lainnya,karena itu proses Pilkada DKI lebih menarik media,masyarakat secara umum. Seseorang yang disiapkan suatu Partai menjadi Gubernur mau tidak mau hasil kerjanya saat menjadi Gubernur DKI juga akan mempengaruhi Partai yang bersangkutan. Dan saya melihat hal ini tentu pasti disadari juga oleh Partai Golkar.

Dengan komposisi politik warga Jakarta seperti sekarang, Bagi Golkar sepertinya menempatkan calonnya sebagai Gubernur akan mendatangkan kerugian yang lebih besar dari keuntungan yang akan mereka terima pada tahun 2014 saat Pemilu Legislatif dan Presiden, Yang waktunya hanya dua tahun dari sekarang. Penilaian di tingkat akar rumput dan problem pembangunan wilayah DKI yg rumit akan menempatkan posisi golkar menjadi sulit di tingkat nasional nantinya bila Gubernurnya berasal dari Golkar.

Bila Golkar sangat menginginkan posisi Gubernur, tentulah banyak kader yang ada di golkar yang bisa jauh jauh hari disiapkan untuk menduduki posis Gubernur DKI, Kenyataannya memang jauh jauh hari dulunya sudah banyak kader golkar yang bermunculan bersedia menjadi CaGub,tetapi pada tahap akhir tidak diajukan oleh Golkar. Pada akhirnya Golkar mengajukan Alex ketika sudah melihat calon calon yang diajukan partai utama lainnya.

Pada Pilkada 2012 ini tentu tidak mungkin bagi Golkar untuk ikut bersama Foke kembali karena Foke sendiri saat ini sudah berada di dalam Partai Demokrat. Tidak mungkin bagi Partai sebesar Golkar ikut bersama memilih calon yang sudah keluar dari partainya. Juga sama tidak mungkinnya bila dalam Pilkada ini Golkar abstein atau tidak memberikan calon sama sekali, Ketika Partai lain mengutus calon mereka tentu tidak wajar bila golkar tak mengutus calon mereka juga..apa kata dunia? Partai Besar tak punya calon di Pilkada DKI sementara perolehan kursi DPRD sangat memungkinkan untuk itu. Bagi semua Partai Partai besar tersebut, prinsipnya diwilayah lain boleh ikut koalisi bersama sama mencalonkan seorang Gubernur tetapi tentu tidak di Jakarta.

Bila pada akhirnya Golkar mau tidak mau harus memunculkan calon juga, Pada tataran inilah Golkar bermain dengan sangat cantiknya, Calon yang diajukan harus yang dapat dianggap publik setara dengan calon calon lainnya, tetapi sekaligus tidak mengharapkan kursi Gubernur tersebut. Calon yang diajukan juga harus dijamin tidak akan mendapatkan “kerugian" politik bila nantinya tidak terpilih. Hebatkan...???

Dari awal penentuan calon, sampai saat saat kampanye terlihat bagaimana Golkar memandang kursi Gubernur DKI ini, Saat kampanye terlihat Golkar tidak terlalu bersemangat untuk memenangkan calonnya, sepertinya adem-adem saja berbeda dengan calon-calon dari partai lainnya. Indikasi teranyar adalah saat pemilihan kemaren, Ketua umum Golkar dan keluarganya malah tidak ikut memilih, Sebelum hari pemilihan beliau sudah pergi ke luar negeri. Mana mungkin bila partai Golkar sangat berambisi mendapatkan posisi Gubernur DKI, Ketua Umumnya tidak bersedia ikut memberikan suaranya, sangat kontras dengan apa yang ditampilan oleh Megawati untuk Jokowi.

Bagi Golkar sendiri dengan memunculkan Alex juga akan mengamankan calon mereka tersebut, walaupun kalah Alex tetapi masih tetap sebagai Gubernur Sumsel sekarang ini. Jadi dalam hal ini Golkar juga tidak mengobankan Kadernya. Kekalahan ini juga tak memberikan dampak yang berarti ke partai Golkar, berbeda misalnya bila Ketua DPD Golkar DKI yang dicalonkan lantas calon tersebut kalah, tentu hal ini akan memberikan dampak yang berat nantinya ke Golkar.

Walaupun Golkar secara resmi kalah dalam pilkada ini, toh sebenarnya masih ada wakil Jokowi yang secara tidak langsung juga adalah wakil Golkar (Ahok sebelumnya anggota DPR dari Golkar), mungkin bagi golkar hal ini sudah cukup untuk menjamin kepentingan partai golkar dan kepentingan petinggi petinggi golkar di wilayah DKI ini.

Sepertinya Strategi Golkar berhasil sejauh ini, Dan sekarang ketika hasil Pilkada tahap pertama sudah diketahui, Golkar akan senang hati memberikan tepuk tangan untuk kedua pasangan calon, sambil mengharapkan Jokowi akan memenangkan tahap kedua Pilkada nanti.
oleh : Alek Laksana (kompasiana)

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Pilkada DKI, Keberhasilan Strategi Golkar?
Ditulis oleh sukacita
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://yoilah.blogspot.com/2012/07/pilkada-dki-keberhasilan-strategi.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 comments:

Post a Comment

Komentar

Template by Berita Update - Trik SEO Terbaru. Original design by Bamz | Copyright of Pilpres , Capres, Jokowi, Prabowo indonesia 2014.